RADAR SURABAYA BISNIS - Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah tegas guna menjamin keamanan pangan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah. Mulai pekan depan, BGN mewajibkan setiap ompreng atau wadah makanan MBG untuk mencantumkan batas waktu konsumsi.
Kepala BGN, Sudaryono, menjelaskan bahwa informasi batas waktu konsumsi tersebut akan menjadi penanda penting bagi guru dan siswa. Hal ini bertujuan untuk memastikan makanan dikonsumsi saat kondisinya masih layak dan aman.
"Mulai minggu depan, kami akan memberlakukan kewajiban untuk menuliskan tanda atau peringatan batas waktu konsumsi di setiap ompreng. Peran bapak dan ibu guru sangat penting sekali di sini untuk mengawasinya," ujar Sudaryono dalam rapat koordinasi tata kelola penyelenggaraan MBG bersama Kemendikdasmen secara daring, Sabtu (8/8/2026).
Baca Juga: Pemerintah Tajamkan Sasaran MBG: Prioritas untuk Ibu Hamil, Balita, dan Daerah 3T
Sudaryono menegaskan, makanan tidak boleh dikonsumsi apabila sudah melewati tenggat waktu yang tercantum pada wadah. Ia memaparkan bahwa makanan matang dalam program MBG disajikan sebagai makanan segar tanpa bahan pengawet.
Oleh karena itu, batas waktu amannya adalah maksimal empat jam setelah proses memasak selesai.
Selain aturan batas waktu konsumsi, BGN juga meminta para siswa untuk tidak membawa pulang makanan MBG. Makanan tersebut harus langsung dihabiskan di sekolah sesuai dengan jam yang telah ditentukan.
Baca Juga: Harga Daging Sapi Tembus Rp143 Ribu, di Daerah Ini Malah Capai Rp180 Ribu
Menurut Sudaryono, praktik membawa pulang makanan MBG selama ini menjadi salah satu pemicu terjadinya sejumlah kasus keracunan.
Risiko ini tidak hanya mengancam siswa, tetapi juga anggota keluarga di rumah yang turut mengonsumsi makanan yang sudah melewati batas waktu aman tersebut.
Sebagai gambaran betapa pentingnya sosialisasi aturan ini, Sudaryono menceritakan pengalamannya saat meninjau sebuah Sekolah Dasar (SD) di Bogor.
Baca Juga: Takut Data Usaha Berujung Pajak, UMKM Mulai Hindari Sensus Ekonomi
Saat itu, ia mendapati seorang siswa membagi makanannya menjadi dua bagian karena teringat untuk diberikan kepada ibunya di rumah. Hal ini menjadi catatan penting bagi BGN agar sosialisasi keamanan pangan dipahami dengan baik oleh siswa dan orang tua.
Editor : Hany AkasahSumber : radar surabaya bisnis