Perkuat Ketahanan Energi, PHE Pelopori Shale Oil Pertama dan Pengeboran Berbasis AI

Hany Akasah • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 13:37 WIB
UNTUK NEGERI : Sebagai Subholding Upstream Pertamina, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) terus menunjukkan komitmen nyata sebagai tulang punggung ketahanan energi Indonesia. (Foto : Istimewa)
UNTUK NEGERI : Sebagai Subholding Upstream Pertamina, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) terus menunjukkan komitmen nyata sebagai tulang punggung ketahanan energi Indonesia. (Foto : Istimewa)

RADAR SURABAYA BISNIS -  Pemerintah Indonesia telah menetapkan arah kebijakan strategis untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjaga komitmen rendah karbon di masa depan.

Sebagai Subholding Upstream Pertamina, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) dipercaya untuk merealisasikan target besar tersebut melalui peningkatan kegiatan operasional secara masif dan agresif di lapangan.

Langkah konkret ini menegaskan posisi PHE sebagai tulang punggung utama dalam menjaga pasokan energi nasional.

 
Dalam pembukaan ajang bergengsi SPE/IADC Asia Pacific Drilling Technology Conference and Exhibition 2026 di Bali pada 5–6 Agustus 2026, Wakil Direktur Utama PHE, Virano Nasution, menggarisbawahi bahwa setiap prioritas pemenuhan energi nasional berawal dari ketersediaan sumur pengeboran.
 
Baca Juga: PHE Minta Insentif Fiskal untuk Kerek Produksi Minyak 2026
 
Menurutnya, upaya tersebut mencakup penahanan laju penurunan produksi alami di lapangan-lapangan tua (mature fields), pembukaan potensi sumber daya baru di kawasan Indonesia Timur, hingga pengoptimalan potensi gas bumi yang melimpah.
 
"Energi di Indonesia bukan sekadar teori abstrak, melainkan fondasi utama bagi keberlangsungan hidup lebih dari 280 juta orang yang tersebar di 17.000 pulau," ujar Virano Nasution menegaskan pentingnya ketersediaan energi bagi masyarakat luas.

Guna mendukung agenda strategis tersebut, PHE aktif menjalankan program pengeboran masif dengan laju tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.
 
Strategi ini diwujudkan melalui penggerakan ratusan sumur pengembangan, pekerjaan perbaikan sumur (workover), serta komitmen eksplorasi yang solid di seluruh wilayah kerja darat (onshore) maupun lepas pantai (offshore) mulai dari Blok Rokan dan Sumatra Selatan hingga Kalimantan dan kawasan Indonesia Timur.
 
Selain mengoptimalkan aset-aset eksisting, PHE secara agresif merambah ke wilayah eksplorasi baru yang berisiko tinggi (new frontier). Dalam sesi presentasi bertajuk "PHE: Drilling at New Frontier", VP Drilling & Well Intervention PHE, Fata Yunus, memaparkan bahwa area pengembangan strategis perusahaan kini mencakup potensi minyak dan gas bumi (migas) non-konvensional, laut dalam (deepwater), serta kawasan bertekanan dan bersuhu tinggi (High Pressure High Temperature/HPHT).

Sebagai bukti nyata di area deepwater, PHE saat ini tengah berfokus pada persiapan pengeboran eksplorasi di wilayah laut dalam. Meski demikian, perusahaan tetap menjaga keseimbangan operasional dengan tidak mengabaikan pembangunan sumur eksploitasi baru serta keandalan dan integritas sumur-sumur yang sudah berproduksi.

VP Drilling & Well Intervention PHE, Fata Yunus juga menekankan bahwa kunci keberhasilan dalam mengelola lapangan baru terletak pada efisiensi operasional dan integrasi teknologi modern. Seluruh operasi pengeboran didukung oleh kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan digitalisasi untuk meningkatkan akurasi data, menghemat biaya proyek, serta menjamin keberlanjutan produksi jangka panjang.
 
"Fokus utama kami dalam seluruh operasi pengeboran dan intervensi sumur adalah pencapaian eksekusi yang sempurna tanpa adanya waktu non-produktif, sembari menjaga keekonomian proyek berada pada tingkat yang optimal. Penerapan digitalisasi, kecerdasan buatan, serta kolaborasi yang erat bersama seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci utama bagi PHE untuk membuka potensi New Frontier seperti shale oil dan deepwater secara aman, efisien, dan berkelanjutan," papar Fata Yunus.
 
Sebagai bagian dari ekspansi new frontier, PHE turut memelopori pengembangan potensi shale oil pertama di Indonesia melalui pengeboran non-konvensional (unconventional drilling).
 
Untuk mempercepat proses komersialisasi potensi ini, PHE menerapkan strategi berbasis industri seperti penggunaan multi-wellpad dan batch drilling, penerapan metode zipper frac beserta operasi simultan (simultaneous operations), serta standardisasi desain pengeboran berbasis factory model.

Lebih lanjut, Fata mengungkapkan rencana perusahaan untuk melaksanakan eksplorasi Multi-Stage Fracturing (MSF) tahap ketiga pada Desember 2026. Tahapan ini ditargetkan untuk memastikan pemenuhan target eksekusi pengeboran pada 12 sumur MSF sepanjang tahun 2026.
 
Bersamaan dengan itu, PHE terus memperluas studi kelayakan penerapan teknologi MSF untuk reservoir bertekanan rendah (low-pressure reservoir) serta sumur konvensional tanpa proses over flush.
 
Mengusung tema "Transforming drilling and wells for an efficient and intelligent energy future", konferensi internasional ini dihadiri oleh pemangku kepentingan lintas sektor, antara lain Gubernur Bali Wayan Koster, Deputi Eksploitasi SKK Migas Surya Widyantoro, jajaran pimpinan PT Pertamina (Persero) dan PHE, pimpinan SPE serta IADC, para duta besar negara sahabat, hingga ratusan delegasi industri energi mancanegara.

Virano Nasution menjelaskan bahwa karakteristik sumur migas masa depan di kawasan Asia Pasifik kian kompleks, bersuhu dan bertekanan lebih tinggi, serta terletak di lokasi geografis yang semakin terpencil. Kondisi ini menuntut tersedianya teknologi mutakhir, armada rig dan kru yang handal, dukungan riset akademis yang kuat, serta kerangka regulasi yang ramah investasi.
Baca Juga: Jaga Ketahanan Energi Nasional, PHE Konsisten Modernisasi Lapangan Mature
 
"Industri hulu migas Indonesia membutuhkan talenta, transfer teknologi dalam bidang eksplorasi, pemboran pengembangan, Enhanced Oil Recovery (EOR), serta Carbon Capture and Storage (CCS)," ungkap Virano.

Menutup paparannya, Virano memberikan apresiasi dan motivasi tinggi kepada para insinyur serta profesional muda di sektor energi. Ia mematahkan anggapan bahwa profesi pengeboran adalah bagian dari industri masa lalu.
 
Sebaliknya, ia menegaskan bahwa upaya pemenuhan kebutuhan energi regional, pembangunan sumur panas bumi untuk transisi energi, hingga penyediaan lokasi penyimpanan karbon tidak akan pernah terwujud tanpa kontribusi insinyur pemboran, ahli geologi, dan geofisikawan berkaliber tinggi. Menurutnya, pekerjaan ini merupakan bagian tak terpisahkan dari tugas monumental pembangunan bangsa. (nov/han)
Editor : Hany Akasah
Sumber : radar surabaya bisnis
Shale Oil phe pertamina hulu energi kecerdasan buatan energi