radarsurabayabisnis.id - Keberadaan minuman beralkohol di Surabaya ternyata memiliki sejarah yang jauh lebih panjang daripada yang banyak diketahui masyarakat. Jauh sebelum pabrik bir berdiri di kawasan Ngangel, pasokan minuman beralkohol sudah masuk ke Kota Pahlawan sejak akhir abad ke-19 melalui jalur pelabuhan.
Saat itu, minuman beralkohol menjadi bagian dari kehidupan para pelaut asing yang singgah di Surabaya. Selain digunakan untuk menghangatkan tubuh setelah berlayar, minuman tersebut juga menjadi sarana hiburan ketika mereka beristirahat sebelum kembali melanjutkan pelayaran.
Baca Juga: Kisah Hilangnya Bioskop King dan Queen Surabaya, Dulu Tempat Nonton Paling Populer
Whisky Pertama Masuk Surabaya pada 1890-an
Pengamat sejarah Ikhsan Rosyid mengungkapkan, minuman keras jenis whisky mulai didatangkan ke Surabaya sekitar tahun 1890-an. Pusat aktivitasnya berada di kawasan Ujung yang kala itu menjadi tempat bersandarnya kapal-kapal dagang internasional.
"Tempat perkumpulan bernama Modderlust yang lokasinya di daerah Ujung biasanya digunakan untuk para pelaut singgah. Mereka biasanya bersenang-senang dengan mengonsumsi minuman Whisky," ujar Ikhsan.
Menurutnya, para pelaut menghabiskan waktu di Societeit Modderlust, sebuah tempat perkumpulan yang berdiri sekitar 1856–1859. Bangunan tersebut kemudian dikenal masyarakat sebagai "Rumah Jenever".
Selain whisky, tempat itu juga menyediakan berbagai minuman impor lain seperti cognac dan Rijnwijn yang banyak dikonsumsi warga Eropa pada masa Hindia Belanda.
Baca Juga: Kisah Restoran Hankow, Kuliner Elite Surabaya Era 1930-an yang Kini Tinggal Kenangan
Impor Bir ke Surabaya Terus Meningkat
Seiring berkembangnya perdagangan internasional, volume impor minuman beralkohol ke Surabaya terus meningkat.
Catatan sejarah menunjukkan, pada 1914 Surabaya menerima kiriman sekitar 56.100 liter bir dalam tong dan 994.000 liter bir dalam botol.
Hanya berselang satu tahun, jumlah tersebut berubah signifikan. Berbagai jenis minuman beralkohol didatangkan dari Belanda, Jepang, hingga Amerika Serikat melalui jalur pelayaran internasional.
"Pasokan minuman keras ke Surabaya tahun 1915 mencapai 780.890 liter bir dalam tong dan 675.880 liter bir dalam botol," kata Ikhsan.
Surabaya Jadi Gerbang Perdagangan Minuman Impor
Besarnya volume impor tersebut menunjukkan Surabaya telah menjadi salah satu gerbang perdagangan internasional terpenting di Hindia Belanda.
Sebagai kota pelabuhan, Surabaya tidak hanya menjadi pusat distribusi hasil bumi dan barang dagangan, tetapi juga menjadi pintu masuk berbagai produk konsumsi dari Eropa dan negara lain, termasuk minuman beralkohol.
Temuan sejarah ini memperlihatkan bahwa budaya konsumsi minuman impor di Surabaya telah berlangsung lebih dari satu abad, jauh sebelum industri bir modern berkembang di Indonesia.
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Surabaya