RADAR SURABAYA BISNIS – Kesejahteraan petani di Indonesia kembali menunjukkan tren positif yang signifikan. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa Nilai Tukar Petani (NTP) pada bulan Juli 2026 sukses menyentuh level tertinggi di angka 127,84, atau mengalami kenaikan sebesar 0,15 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa tren positif ini dipicu oleh efisiensi pengeluaran petani.
Indeks Harga yang Dibayar (Ib) oleh petani mengalami penurunan sebesar 0,25 persen, lebih dalam dibandingkan penurunan Indeks Harga yang Diterima (It) yang hanya sebesar 0,10 persen.
Baca Juga: Bulog Perluas Distribusi Beras Premium ke Retail Modern, Pastikan Stok Aman
"Kenaikan NTP terjadi karena penurunan biaya yang dikeluarkan petani lebih besar dibandingkan penurunan harga hasil pertanian," papar Ateng dalam Berita Resmi Statistik (BRS) BPS.
Peningkatan NTP nasional ini ditopang kuat oleh performa impresif di dua subsektor utama. Subsektor tanaman perkebunan rakyat memimpin dengan kenaikan 1,67 persen berkat menguatnya harga kakao dan kelapa sawit.
Disusul oleh subsektor tanaman pangan yang naik 1,32 persen, didorong oleh peningkatan harga padi dan palawija.
Secara kumulatif dari Januari hingga Juli 2026, NTP tercatat berada di angka 126,13, melesat 2,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sebanyak 26 dari 38 provinsi mencatatkan rapor hijau, dengan Sulawesi Tenggara menorehkan kenaikan tertinggi mencapai 8,89 persen.
Merespons capaian positif ini, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa lonjakan NTP adalah indikator nyata semakin kuat dan produktifnya sektor pertanian di Tanah Air.
Baca Juga: Target Ekonomi Tembus 6 Persen, Pemerintah Siapkan Stimulus Manufaktur dan Otomotif di Semester II
Menurutnya, capaian ini tidak lepas dari berbagai langkah percepatan strategis Kementerian Pertanian (Kementan), mulai dari optimasi lahan, rehabilitasi irigasi, distribusi benih unggul, hingga masifnya bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan).
"Kita ingin petani semakin sejahtera. Ketika produktivitas naik dan harga petani membaik, maka kesejahteraan petani akan meningkat," tegas Amran.
Kementan berkomitmen untuk terus menjaga momentum ini. Upaya penguatan pendampingan dari hulu ke hilir diharapkan mampu menjaga stabilitas harga komoditas, efisiensi biaya tani, dan pada akhirnya memperkokoh ketahanan pangan nasional.
Baca Juga: Lelang Batubara Sitaan di Kaltim, ESDM Raup PNBP Rp20,9 Miliar
Editor : Hany AkasahSumber : radar surabaya bisnis