radarsurabayabisnis.id - Implementasi mandatori biodiesel 50 persen (B50) yang mulai berlaku sejak Juli 2026 diperkirakan belum memberikan dampak signifikan terhadap volume ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) Indonesia sepanjang tahun ini. Tambahan kebutuhan bahan baku untuk program energi tersebut dinilai masih dapat dipenuhi dari produksi nasional tanpa mengurangi pasokan ke pasar ekspor.
Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, mengatakan implementasi B50 pada tahun ini masih berada dalam tahap awal sehingga kebutuhan tambahan CPO diperkirakan belum cukup besar untuk menekan ekspor.
"Pada 2026, implementasi B50 seharusnya belum mengurangi volume ekspor. Tambahan kebutuhan bahan baku diperkirakan maksimal 1,5 juta ton dan kemungkinan lebih rendah karena program belum berjalan penuh," ujar Eddy, Selasa (4/8).
Baca Juga: Target 1 Oktober 2026, Seluruh SPBU di Indonesia Sudah Salurkan B50
Tambahan Kebutuhan CPO Diperkirakan 1,5 Juta Ton
Menurut Eddy, implementasi B50 diperkirakan membutuhkan tambahan sekitar 1,5 juta ton CPO sepanjang 2026. Dengan demikian, total kebutuhan bahan baku untuk program biodiesel diproyeksikan mencapai sekitar 14,5 juta ton.
Volume tersebut dinilai masih berada dalam kapasitas produksi nasional sehingga belum mengganggu ketersediaan pasokan untuk pasar ekspor.
Pernyataan GAPKI tersebut sekaligus menanggapi proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS) yang memperkirakan implementasi B50 berpotensi memengaruhi ekspor CPO pada semester II-2026 akibat meningkatnya konsumsi dalam negeri.
BPS juga mencatat pertumbuhan nilai ekspor CPO beserta produk turunannya pada semester I-2026 hanya mencapai 7,32 persen secara tahunan (year on year), melambat dibandingkan pertumbuhan 24,80 persen pada periode yang sama tahun lalu.
GAPKI Waspadai Tekanan Ekspor pada Jangka Menengah
Meski optimistis ekspor belum terdampak pada tahun ini, GAPKI mengingatkan tantangan bisa muncul dalam jangka menengah.
Baca Juga: Hemat Devisa Rp177 Triliun, Indonesia Jadi Negara Pertama Terapkan Biodiesel B50
Wakil Sekretaris Jenderal GAPKI, Lolita Bangun, memperkirakan produksi sawit nasional sepanjang 2026 hanya tumbuh kurang dari dua persen. Kondisi tersebut dipengaruhi dampak El Niño, penurunan produktivitas tanaman, serta masih berlangsungnya program peremajaan perkebunan sawit.
Di sisi lain, implementasi B50 diperkirakan meningkatkan kebutuhan CPO domestik sekitar 1,9 juta ton dibandingkan saat program B40 masih berlaku.
Peningkatan konsumsi dalam negeri itu berpotensi memperketat pasokan ekspor sekaligus menjaga harga CPO tetap berada di level tinggi. Industri sawit juga menghadapi tantangan berupa kenaikan biaya produksi, biaya logistik, serta berbagai kebijakan baru pemerintah yang mendorong percepatan hilirisasi melalui pengembangan produk bernilai tambah.
Produksi Nasional Jadi Penentu Keberlanjutan Program B50
Pelaku industri menilai keberhasilan implementasi B50 dalam jangka panjang akan sangat bergantung pada kemampuan meningkatkan produktivitas perkebunan sawit nasional. Jika produksi tidak tumbuh seiring meningkatnya kebutuhan domestik, ruang ekspor Indonesia berpotensi semakin terbatas dalam beberapa tahun mendatang.
Baca Juga: Biodiesel B50 Resmi Meluncur, Harapan Baru Warga untuk Bahan Bakar Murah dan Stabil
Untuk 2026, GAPKI masih meyakini keseimbangan antara kebutuhan biodiesel dan ekspor dapat terjaga karena tambahan kebutuhan bahan baku masih berada dalam kapasitas produksi nasional.
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Surabaya