RADAR SURABAYA BISNIS – Perekonomian Indonesia kembali menunjukkan performa yang solid pada paruh kedua tahun 2026.
Tiga indikator makroekonomi utama yang dirilis pada awal Agustus 2026 menegaskan hal tersebut, yakni inflasi yang tetap terjaga, sektor manufaktur yang kembali masuk zona ekspansi, serta membaiknya neraca perdagangan nasional.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa capaian ini adalah hasil komitmen berkelanjutan dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi.
"Ketahanan pangan, ketahanan energi, dan pengendalian inflasi merupakan fondasi utama untuk menjaga daya beli masyarakat, sekaligus meningkatkan kepercayaan dunia usaha dan daya saing ekonomi nasional," ujar Airlangga di Jakarta, Senin (3/8/2026).
Kabar baik datang dari realisasi inflasi Juli 2026 yang tercatat sebesar 2,88% secara year-on-year (yoy). Angka ini lebih baik dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di posisi 3,34% (yoy) dan masih berada dalam rentang sasaran pemerintah yakni 2,5±1%.
Meredanya tekanan inflasi ini utamanya didorong oleh turunnya harga sejumlah komoditas pangan strategis, seperti bawang merah, tomat, telur ayam ras, dan cabai rawit. Hal ini sejalan dengan peningkatan produksi pangan di sejumlah daerah sentra.
Baca Juga: Daftar 20 Negara dengan Utang Terbesar di Dunia 2026, Indonesia Urutan Berapa?
Pemerintah juga terus memperkuat ketahanan pangan melalui berbagai program andalan, mulai dari Gerakan Pangan Murah (GPM), Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), hingga optimalisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) sektor pertanian yang realisasinya telah mencapai Rp198,9 triliun per 28 Juli 2026.
Sinyal positif perekonomian nasional juga datang dari sektor manufaktur. Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Juli 2026 kembali masuk ke zona ekspansi di level 50,2 (naik dari 46,9 pada bulan sebelumnya).
Kenaikan ini didorong oleh menguatnya pesanan baru yang memicu tingkat output tertinggi sejak Februari 2026, serta penyerapan tenaga kerja yang kembali positif.
Baca Juga: Ekspor Indonesia Tembus Rp2.507 Triliun, Surplus Perdagangan Masih Bertahan
Kondisi industri yang membaik turut menopang ketahanan eksternal ekonomi. Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari hingga Juni 2026 mencetak surplus sebesar USD 3,58 miliar.
Sektor industri pengolahan menjadi andil utama pertumbuhan ekspor nonmigas sebesar 6,18%, yang mencerminkan keberlanjutan program hilirisasi.
"Pemerintah optimis perekonomian Indonesia akan tetap tumbuh secara berkelanjutan dengan terjaganya inflasi, ekspansi sektor manufaktur, dan membaiknya neraca perdagangan. Kami akan terus mengawal tren positif ini melalui kebijakan yang antisipatif dan responsif," tutup Airlangga.
Baca Juga: Industri Gula Rafinasi Wajib Punya Kebun Tebu, Harga Produk Makanan Terancam Naik
Editor : Hany AkasahSumber : radar surabaya bisnis