radarsurabayabisnis.id - Ekspor Indonesia mencatat kinerja positif sepanjang semester I 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai ekspor nasional mencapai 140,81 miliar dolar AS atau sekitar Rp2.507 triliun pada periode Januari–Juni 2026. Capaian tersebut meningkat 4,13 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Di tengah kenaikan ekspor, impor Indonesia juga tumbuh lebih tinggi. Meski demikian, neraca perdagangan nasional masih mampu mencatatkan surplus sebesar 3,58 miliar dolar AS atau sekitar Rp63,74 triliun.
Ekspor Indonesia Naik, China Tetap Jadi Pasar Terbesar
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, pertumbuhan ekspor Indonesia pada semester I 2026 terutama didorong oleh kinerja sektor industri pengolahan yang masih menjadi kontributor utama.
China tetap menjadi negara tujuan ekspor terbesar Indonesia dengan nilai mencapai 34,56 miliar dolar AS atau sekitar Rp615,34 triliun. Posisi berikutnya ditempati Amerika Serikat dengan nilai ekspor sebesar 15,82 miliar dolar AS atau sekitar Rp281,27 triliun.
Baca Juga: Misi Dagang Jawa Timur di Hong Kong Pecahkan Rekor, Transaksi Tembus Rp12 Triliun
Sementara itu, India berada di peringkat ketiga dengan nilai ekspor mencapai 9,25 miliar dolar AS atau sekitar Rp164,70 triliun.
Kinerja tersebut menunjukkan permintaan dari sejumlah mitra dagang utama masih menjadi penopang ekspor Indonesia di tengah dinamika ekonomi global.
Impor Melonjak Hampir 19 Persen
Di sisi lain, BPS mencatat nilai impor Indonesia selama Januari–Juni 2026 mencapai 137,24 miliar dolar AS atau sekitar Rp2.443 triliun. Angka tersebut meningkat 18,69 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Lonjakan impor tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekspor. Meski demikian, secara kumulatif Indonesia masih membukukan surplus neraca perdagangan sebesar 3,58 miliar dolar AS atau sekitar Rp63,74 triliun pada semester pertama tahun ini.
Namun, secara bulanan, kondisi perdagangan mengalami tekanan. Pada Juni 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit sebesar 450 juta dolar AS atau sekitar Rp8,01 triliun.
Meski terjadi defisit pada Juni, surplus kumulatif sepanjang semester I 2026 menunjukkan perdagangan luar negeri Indonesia masih berada di jalur positif. Pemerintah diharapkan terus memperkuat daya saing ekspor nasional sekaligus menjaga keseimbangan impor agar surplus perdagangan tetap terjaga hingga akhir tahun.
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Surabaya