Tren Nostalgia Ala Gen Z: Berburu Kamera Analog, Walkman, hingga Baju Thrifting

Hany Akasah • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 18:28 WIB
NOSTALGIA: Sejumlah anak muda tampil bergaya busana retro era 90-an di area perkotaan.
NOSTALGIA: Sejumlah anak muda tampil bergaya busana retro era 90-an di area perkotaan.

RADAR SURABAYA BISNIS — Fenomena kembalinya tren gaya hidup retro kini tengah melanda Generasi Z (Gen Z). Mulai dari popularitas busana ala tahun 1980-an hingga Y2K, tren musik lewat kaset pita dan piringan hitam (vinyl), pemakaian kamera analog, hingga beralihnya penggunaan gawai ke ponsel fitur biasa, gaya hidup era lampau ini kian ramai diadopsi oleh anak muda.

Fenomena ini bukan sekadar ikut-ikutan gaya busana, berdasarkan studi global dari GlobalWebIndex (GWI) sebanyak 50 persen Gen Z kerap merasakan nostalgia terhadap berbagai bentuk media masa lalu, yang menjadi pendorong utama merebaknya tren ini. 

Menariknya, laporan tersebut mencatat 37 persen dari mereka bahkan merasakan nostalgia pada era 1990-an, meskipun mayoritas lahir setelah dekade tersebut berakhir.

Baca Juga: Ratusan SPPG Sudah Dibangun Belum Bisa Beroperasi, 800 Dapur MBG di Jatim Terdampak Moratorium

Para ahli dan laporan riset menilai maraknya fenomena ini dipicu oleh tingginya tingkat kelelahan digital (digital burnout) dan ketidakpastian situasi pascapandemi. 

Laporan Deloitte Global Gen Z Survey mengungkapkan bahwa tingkat stres anak muda cenderung meningkat akibat paparan media sosial yang intens, sehingga mendorong mereka mencari gaya hidup yang lebih sederhana, autentik, dan minim distraksi.

Salah satu langkah nyata yang diambil Gen Z adalah melakukan digital detox dengan memakai dumb phone yang hanya memiliki fungsi dasar seperti panggilan suara dan pesan singkat. 

Baca Juga: Kejar Swasembada Gula 2 Tahun, Pemerintah Bongkar 100 Ribu Hektare Kebun Tebu Tiap Tahun

Di sektor hiburan dan fashion, data Statista Consumer Insights dan McKinsey & Company turut merekam lonjakan minat pada format musik fisik, aktivitas thrifting (pakaian bekas layak pakai), serta penggunaan kamera instan yang tidak dapat diedit secara langsung.

Media sosial seperti TikTok dan Instagram justru turut mempercepat penyebaran tren analog ini melalui berbagai konten kreatif.

Fenomena kebangkitan gaya retro ini pada akhirnya mencerminkan upaya Gen Z dalam menjaga keseimbangan hidup—mencari kenyamanan dan interaksi sosial yang lebih berkesan di tengah pesatnya laju dunia digital.

Baca Juga: Dorong Skala Ekonomi Petani Jagung, Pemerintah Tawarkan Pembiayaan KUR Pola Yarnen

Editor : Hany Akasah
Sumber : radar surabaya bisnis
tren retro nostalgia vintage Gen Z klasik