radarsurabayabisnis.id - Bagi warga Surabaya yang tumbuh pada era 1960 hingga 1980-an, nama Bioskop King dan Queen tentu bukan sesuatu yang asing. Tempat nonton legendaris yang berada di kawasan Alun-Alun Contong itu pernah menjadi salah satu pusat hiburan paling populer sebelum akhirnya hilang seiring pesatnya pembangunan kota.
Kini, jejak fisik bioskop tersebut memang telah lenyap. Namun kisahnya masih hidup dalam ingatan banyak warga sebagai bagian dari sejarah perfilman dan perkembangan Kota Surabaya.
Menariknya, jauh sebelum menjadi bioskop, bangunan tersebut merupakan gedung peninggalan Hindia Belanda milik NV Pharmaceutische Import Mij Helmig en Co., sebuah perusahaan impor obat-obatan.
Baca Juga: Kisah Restoran Hankow, Kuliner Elite Surabaya Era 1930-an yang Kini Tinggal Kenangan
Gedung bergaya kolonial itu berdiri tepat di depan Alun-Alun Contong dan menjadi salah satu bangunan ikonik di kawasan perdagangan sekitar Sungai Kalimas. Dari foto-foto lawas, bangunan tersebut tampak megah dengan arsitektur khas Eropa yang dapat terlihat jelas dari arah Jembatan Peneleh maupun Jalan Pahlawan.
Namun, perjalanan bangunan bersejarah itu harus berakhir pada 1989 ketika dibongkar. Lahan tersebut kemudian berkembang menjadi kawasan pertokoan dan perkantoran seperti yang terlihat saat ini.
Pernah Jadi Bioskop Favorit Warga Surabaya
Budayawan senior Surabaya, Yousri Raja Agam, menjelaskan Bioskop King dan Queen mulai beroperasi sekitar 1968, ketika industri perfilman Indonesia memasuki masa keemasan pada awal era Orde Baru.
"Awal Orde Baru menjadi masa berkembangnya bisnis bioskop di berbagai kota. Banyak gedung lama dialihfungsikan menjadi bioskop, mulai gudang, toko hingga gedung kesenian Tionghoa. Bioskop King dan Queen memanfaatkan bangunan tua peninggalan Hindia Belanda," ujarnya.
Keunikan Bioskop King dan Queen terletak pada konsep dua ruang pertunjukan dalam satu bangunan. Bioskop King berada di lantai atas, sedangkan Bioskop Queen berada di lantai bawah.
Baca Juga: Jejak Jalan Jagalan Surabaya Era 90-an, Ajang Berburu Hoki Lewat Judi SDSB
Lokasinya yang berada di Jalan Alun-Alun Contong, di antara Jalan Gemblongan dan Jalan Baliwerti, membuat bioskop ini mudah dijangkau masyarakat dari berbagai penjuru Surabaya.
Pada masa itu, menonton film bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat perkotaan.
Alun-Alun Contong Pernah Jadi Pusat Perdagangan Surabaya
Anggota komunitas sejarah Surabaya, Rony Limaran, mengatakan kawasan Alun-Alun Contong sejak dahulu merupakan salah satu pusat aktivitas ekonomi Kota Pahlawan.
Menurutnya, keramaian kawasan tersebut lahir dari aktivitas perdagangan yang memanfaatkan Sungai Kalimas sebagai jalur transportasi utama. Para pedagang dari berbagai daerah berkumpul untuk melakukan transaksi di kawasan tersebut.
Selain pusat perdagangan, kawasan ini juga pernah memiliki sekolah Tionghoa terkenal bernama Chung Hua Chung yang berada tepat di seberang Bioskop King dan Queen.
"Banyak yang tidak tahu bahwa Alun-Alun Contong dulunya merupakan kawasan yang sangat hidup. Selain menjadi pusat perdagangan, di sini juga berdiri sekolah Chung Hua Chung yang cukup terkenal pada masanya," jelas Rony.
Keberadaan bioskop semakin melengkapi fungsi kawasan ini sebagai pusat aktivitas masyarakat Surabaya.
Penjaga Pintu yang Ditakuti Anak-anak
Selain bangunannya yang ikonik, Bioskop King dan Queen juga menyimpan cerita unik yang masih dikenang hingga sekarang.
Kala itu, seorang penjaga bertubuh besar selalu berdiri di pintu masuk untuk memeriksa kartu identitas setiap calon penonton.
Anak-anak yang belum berusia 13 tahun tidak diperbolehkan masuk sesuai aturan pengelola bioskop. Bagi banyak warga Surabaya, momen melewati pemeriksaan tersebut menjadi pengalaman yang sulit dilupakan.
Kini, Bioskop King dan Queen memang telah menghilang. Namun kisahnya tetap menjadi bagian penting dari sejarah Surabaya, mengingatkan bagaimana kawasan Alun-Alun Contong pernah menjadi pusat perdagangan sekaligus pusat hiburan yang mewarnai kehidupan masyarakat Kota Pahlawan selama puluhan tahun.
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Surabaya