RADAR SURABAYA BISNIS — Komoditas kopi dan kakao asal Jawa Timur terus diperkuat untuk menembus pasar internasional.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Jatim berkomitmen mendorong strategi hilirisasi, penguatan ekosistem agroindustri, serta kolaborasi lintas sektor guna meningkatkan daya saing produk lokal sekaligus mengerek kesejahteraan petani.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyampaikan bahwa kekuatan komoditas kopi dan kakao Jatim terletak pada keberagaman cita rasa khas (flavor) yang dipengaruhi oleh karakter geografis daerah masing-masing.
"Pengembangan sektor perkebunan harus diarahkan pada hilirisasi, pengolahan, penguatan merek, sertifikasi, hingga perluasan akses pasar internasional," ujar Khofifah dalam keterangan tertulisnya di Surabaya, Senin (20/7/2026).
Menurut Khofifah, peluang ekspor kini makin terbuka seiring bergesernya tren gaya hidup masyarakat global menuju produk yang berkelanjutan dan bercita rasa premium.
Sebagai salah satu dari lima provinsi penghasil kopi terbesar di Indonesia, Jatim mencatatkan produksi hingga 80.895 ton yang ditopang oleh wilayah Malang, Banyuwangi, Bondowoso, dan Situbondo. Total luas perkebunan kopi rakyat di kawasan tersebut mencapai 123.720 hektare.
Baca Juga: Harga Telur Jatuh, Biaya Pakan Malah Naik, Peternak Jombang Terancam Rugi Besar
Sementara untuk komoditas kakao, Pemprov Jatim fokus memperkuat klasterisasi pengembangan di Blitar, Madiun, Trenggalek, hingga Pacitan sebagai bagian dari diversifikasi tanaman perkebunan.
Dukungan konkret terhadap akselerasi ekspor ini juga direalisasikan melalui gelaran Java Coffee & Flavor Festival (JCFF) 2026 yang berlangsung di Alun-Alun Kota Surabaya pada 17–19 Juli 2026.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Ibrahim, mengungkapkan bahwa pameran tahunan edisi ke-5 tersebut berhasil mencatatkan nilai transaksi dan pembiayaan mencapai Rp92,45 miliar.
Baca Juga: Seni yang Menginspirasi, Perupa Disabilitas Bersinar di Pameran Seni Rupa Jawa Timur 2026
"Capaian tersebut didapat dari transaksi business matching perdagangan serta pembiayaan bersama investor domestik, internasional, dan perbankan di Jawa Timur," jelas Ibrahim.
Ajang yang diikuti lebih dari 110 UMKM ini bertujuan memperkuat korporatisasi petani, digitalisasi sistem pembayaran, hingga memperluas akses pasar ekspor bagi komoditas kopi, kakao, teh, dan rempah-rempah.
Deputi Gubernur BI, Filianingsih Hendarta, menambahkan bahwa tema "From Local Flavors to Global Horizon" mencerminkan komitmen bersama untuk membawa produk unggulan Nusantara ke panggung dunia.
Baca Juga: Dorong Ekonomi Maritim Global, Menko AHY Percepat Pengembangan Bali Maritime Tourism Hub
Pada 2024, total produksi kopi, kakao, dan teh di Pulau Jawa mencapai kisaran 220 ribu hingga 250 ribu ton, dengan Jawa Timur berperan sebagai sentra produksi utamanya.
Melalui sinergi antara hilirisasi industri, inovasi pengolahan, dan pemasaran digital, kopi dan kakao Jawa Timur diharapkan tidak hanya memperkuat posisi Indonesia di pasar global, tetapi juga menjadi motor penggerak baru pertumbuhan ekonomi daerah.
Editor : Hany AkasahSumber : radar surabaya bisnis