radarsurabayabisnis.id - Kabar baik bagi pengguna BBM nonsubsidi. Pemerintah membuka peluang menurunkan harga Pertamax mulai bulan depan apabila tren penurunan harga minyak dunia terus berlanjut.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah saat ini sedang menghitung dampak pelemahan harga minyak global terhadap formula harga BBM nonsubsidi. Hasil perhitungan tersebut akan dibahas bersama PT Pertamina (Persero) dan badan usaha penyedia BBM lainnya.
"Kita akan melihat. Saya sudah menghitung dan akan melakukan rapat dengan badan usaha dari Pertamina maupun beberapa badan usaha lain. Ketika harga minyak dunia turun, kita akan menyesuaikan," ujar Bahlil di Jakarta, Selasa (21/7).
Pernyataan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa harga Pertamax berpeluang mengalami penyesuaian setelah beberapa bulan bertahan di level Rp16.250 per liter.
Baca Juga: Peluang Pertamax Turun Pekan Depan, Ternyata Masih Butuh Kajian Panjang
Pemerintah Masih Tunggu Tren Harga Minyak Dunia
Meski membuka peluang penurunan harga BBM, pemerintah belum ingin mengambil keputusan secara terburu-buru.
Bahlil menjelaskan, harga Indonesian Crude Price (ICP) masih bergerak fluktuatif dalam beberapa waktu terakhir sehingga diperlukan kehati-hatian sebelum menetapkan harga baru.
"Kadang-kadang harga ICP hari ini naik, besok turun, kemudian naik lagi. Dalam kondisi seperti ini, kami mencari formulasi yang bijak. Tidak memberatkan masyarakat pengguna BBM nonsubsidi, tetapi juga tidak memberatkan pelaku usaha di sektor perminyakan," katanya.
Menurut Kementerian ESDM, pengguna BBM nonsubsidi hanya sekitar 20 persen dari total konsumsi BBM nasional. Meski demikian, pemerintah tetap berupaya menjaga keseimbangan antara harga yang mengikuti mekanisme pasar dan daya beli masyarakat.
Baca Juga: Kenaikan Pertamax Hanya Sumbang 0,25 Persen, BI Ungkap Ancaman Inflasi yang Sebenarnya
BBM Subsidi Dipastikan Tidak Naik
Di sisi lain, Bahlil memastikan harga BBM bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan.
Bahkan, pemerintah telah meminta Pertamina dan badan usaha swasta menyiapkan kemungkinan penyesuaian harga sejumlah jenis BBM nonsubsidi apabila harga minyak dunia terus menunjukkan tren penurunan.
"Tentu kami memastikan bahwa BBM subsidi tidak ada kenaikan sama sekali. Bahkan, ada potensi beberapa jenis BBM mengalami penyesuaian apabila harga minyak dunia terus turun," ujarnya.
Selain membahas harga BBM, Bahlil juga melaporkan kondisi ketahanan energi nasional kepada Presiden Prabowo Subianto.
Ia memastikan stok BBM nasional saat ini berada di atas batas minimum operasional, sementara pasokan minyak mentah untuk kebutuhan dalam negeri dipastikan aman hingga akhir 2026.
"Saya melapor bahwa kondisi stok BBM kita di atas standar minimum. Kemudian, kerja sama pengadaan crude juga sudah clear sehingga, insya Allah, sampai akhir tahun tidak ada masalah," kata Bahlil.
Pertamax Belum Ikut Turun Seperti BBM Lain
Sebagai informasi, PT Pertamina Patra Niaga masih mempertahankan harga Pertamax (RON 92) sebesar Rp16.250 per liter sejak 10 Juni 2026.
Sementara itu, pada penyesuaian harga 1 Juli 2026, Pertamina telah menurunkan harga sejumlah BBM nonsubsidi lainnya. Harga Pertamax Turbo turun dari Rp20.750 menjadi Rp19.300 per liter, Dexlite dari Rp23.000 menjadi Rp19.700 per liter, serta Pertamina Dex dari Rp24.800 menjadi Rp21.150 per liter.
Apabila tren pelemahan harga minyak dunia terus berlanjut, Pertamax diperkirakan menjadi produk BBM nonsubsidi berikutnya yang akan mengalami penurunan harga pada evaluasi bulan depan.
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Surabaya