radarsurabayabisnis.id - Pemerintah Provinsi Jawa Timur menargetkan kopi dan kakao menjadi komoditas unggulan yang mampu bersaing di pasar internasional. Strategi yang disiapkan tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memperkuat hilirisasi, agroindustri, branding, hingga akses ekspor agar produk Jawa Timur memiliki nilai tambah yang lebih tinggi.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan provinsi ini memiliki modal besar untuk menjadi pemain utama industri kopi dan kakao nasional karena didukung produksi yang tinggi serta karakter cita rasa yang beragam dari berbagai daerah.
Baca Juga: Tembus Rp17,45 Miliar, Jawa Timur Sumbang Transaksi Koperasi Merah Putih Terbesar
"Jawa Timur memiliki kekuatan tidak hanya dari volume produksi, tetapi juga keragaman cita rasa kopi dari karakter geografis masing-masing daerah," ujar Khofifah di Surabaya, Senin (21/7).
Menurutnya, tren konsumsi global kini bergeser ke produk premium, berkelanjutan, dan memiliki identitas asal (origin). Karena itu, pengembangan sektor perkebunan harus diarahkan pada pengolahan produk bernilai tambah, penguatan merek, sertifikasi, hingga perluasan pasar ekspor.
Produksi Kopi Jawa Timur Capai 80.895 Ton
Indonesia saat ini menjadi salah satu dari empat produsen kopi terbesar di dunia bersama Brasil, Vietnam, dan Kolombia. Di tingkat nasional, Jawa Timur juga menjadi salah satu sentra utama produksi kopi.
Data Pemprov Jatim menunjukkan produksi kopi provinsi ini mencapai 80.895 ton per tahun yang berasal dari sejumlah daerah penghasil utama seperti Kabupaten Malang, Banyuwangi, Bondowoso, dan Situbondo.
Selain itu, luas perkebunan kopi rakyat di Jawa Timur telah mencapai 123.720 hektare, menjadi kekuatan besar untuk mendukung peningkatan ekspor maupun industri pengolahan dalam negeri.
Tak hanya kopi, pengembangan kakao juga terus diperkuat melalui pembentukan klaster perkebunan di Kabupaten Blitar, Madiun, Trenggalek, hingga Pacitan.
Baca Juga: Stok Beras Jawa Timur Melimpah, Serapan Bulog Jatim Tembus 98,35 Persen
BI Dorong Petani dan UMKM Tembus Pasar Global
Khofifah mengapresiasi dukungan Bank Indonesia yang selama ini aktif memperkuat ekosistem kopi dan kakao melalui korporatisasi petani, digitalisasi usaha, hingga pembukaan akses pasar internasional.
Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Java Coffee & Flavor Festival (JCFF) 2026 yang mempertemukan petani, pelaku UMKM, perbankan, eksportir, dan calon pembeli dari luar negeri.
"JCFF adalah ruang kolaborasi yang mempertemukan petani, UMKM, perbankan, hingga pembeli luar negeri," katanya.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Filianingsih Hendarta menambahkan produksi kopi, kakao, dan teh di Pulau Jawa sepanjang 2024 mencapai sekitar 220 ribu hingga 250 ribu ton, dengan Jawa Timur menjadi salah satu kontributor terbesar.
"Semoga JCFF terus meningkatkan kesejahteraan petani dan UMKM," ujarnya.
Tak Lagi Hanya Jual Bahan Mentah
Pemprov Jawa Timur optimistis strategi hilirisasi akan membuat daerah ini tidak lagi hanya dikenal sebagai pemasok bahan baku, tetapi mampu menjadi pusat produksi olahan kopi dan kakao bernilai tinggi yang berdaya saing di pasar global.
Dengan penguatan industri pengolahan, peningkatan kualitas produk, serta perluasan akses ekspor, kopi dan kakao Jawa Timur diharapkan mampu menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani dan pelaku UMKM.
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Surabaya