radarsurabayabisnis.id - Pemerintah resmi memulai pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) LNG Abadi Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, Kamis (16/7). Setelah peletakan batu pertama (groundbreaking), proyek senilai 20,9 miliar dolar AS atau sekitar Rp340 triliun itu langsung memasuki tahap pengeboran 15 sumur pengembangan.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pengeboran tersebut menjadi pekerjaan utama pada fase awal pembangunan proyek.
"Yang pertama dikerjakan adalah pengeboran 15 sumur pengembangan, terdiri atas 11 sumur utama dan empat sumur lanjutan. Bersamaan dengan itu, pembangunan fasilitas pendukung seperti pelabuhan, dermaga, hingga rekayasa, pengadaan, dan konstruksi (EPC) juga mulai berjalan," ujar Bahlil.
Baca Juga: Prabowo Resmikan Proyek LNG Abadi Masela Senilai Rp340 Triliun, Buka 12 Ribu Lapangan Kerja
Cadangan Gas 6,97 TCF, Investasi Rp340 Triliun
Proyek LNG Abadi Masela memiliki cadangan gas terbukti sebesar 6,97 triliun kaki kubik (TCF) dengan total investasi mencapai 20,9 miliar dolar AS atau sekitar Rp340 triliun.
Struktur kepemilikan proyek terdiri atas:
- INPEX Masela Ltd: 65 persen
- Pertamina Hulu Energi Masela: 20 persen
- PETRONAS Masela: 15 persen
Fasilitas yang dibangun meliputi sistem produksi bawah laut, Floating Production Storage and Offloading (FPSO), pipa ekspor, kilang LNG darat (onshore) di Desa Lermatang, hingga fasilitas Carbon Capture and Storage (CCS).
Target Produksi 9,5 Juta Ton LNG per Tahun
Setelah beroperasi, proyek ini ditargetkan memproduksi:
- 9,5 juta ton LNG per tahun
- 150 juta standar kaki kubik gas per hari (MMSCFD) untuk kebutuhan domestik
- 35.000 barel kondensat per hari
Pemerintah menetapkan minimal 60 persen produksi gas dialokasikan untuk kebutuhan dalam negeri, sedangkan maksimal 40 persen dapat diekspor.
PT Pupuk Indonesia telah memperoleh alokasi gas dengan harga sekitar 6–7 dolar AS per MMBTU. Sementara itu, pembahasan pasokan dengan PGN dan PLN masih berlangsung.
Di sisi lain, Subholding PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) telah mengamankan pasokan LNG selama 15 tahun sejak proyek memasuki Commercial Operation Date (COD) pada 2032, dengan total volume sekitar 37,5 juta ton.
FID Ditargetkan Akhir 2026
Pemerintah mencatat progres Front End Engineering Design (FEED) proyek telah mencapai 79,56 persen atau melampaui target.
Selanjutnya, Final Investment Decision (FID) ditargetkan dapat ditetapkan pada Desember 2026 sebelum proyek memasuki tahap konstruksi skala penuh.
Diproyeksi Sumbang Rp2.476 Triliun ke PDB
Proyek LNG Abadi Masela diperkirakan menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi Indonesia timur.
Berdasarkan proyeksi pemerintah, proyek ini berpotensi:
- Berkontribusi sekitar 137,7 miliar dolar AS atau sekitar Rp2.476 triliun terhadap PDB nasional hingga 2055.
- Menyerap sekitar 12.000 tenaga kerja selama masa konstruksi dan 850 pekerja saat operasi.
- Memberikan penerimaan negara sekitar 37,85 miliar dolar AS atau sekitar Rp680,5 triliun.
Pemerintah berharap proyek ini tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga mempercepat pemerataan pembangunan, mendorong tumbuhnya industri hilir, serta meningkatkan perekonomian kawasan timur Indonesia.
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Surabaya