radarsurabayabisnis.id - PT Freeport Indonesia memproyeksikan kontribusi kepada negara mencapai lebih dari 7 miliar dolar AS atau sekitar Rp120 triliun per tahun setelah produksi tambang kembali normal dan seluruh fasilitas hilirisasi tembaga di Gresik, Jawa Timur, beroperasi penuh.
Presiden Direktur Freeport Indonesia Tony Wenas mengatakan target tersebut akan ditopang oleh beroperasinya smelter dan precious metal refinery (PMR) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik yang memungkinkan seluruh rantai nilai tembaga diproses di dalam negeri.
"Dengan beroperasinya smelter dan precious metal refinery di Gresik, seluruh rantai nilai tembaga dari konsentrat, katoda tembaga, hingga logam mulia seperti emas dan perak kini dapat diproses di dalam negeri. Ini merupakan lompatan besar bagi hilirisasi mineral Indonesia," ujar Tony dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, Selasa (14/7).
Smelter Gresik Olah 3 Juta Ton Konsentrat per Tahun
Smelter baru Freeport memiliki kapasitas pengolahan 1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahun. Ditambah kapasitas PT Smelting Gresik sebesar 1,3 juta ton per tahun, total kapasitas pemurnian tembaga Freeport di dalam negeri kini mencapai sekitar 3 juta ton konsentrat per tahun.
Sementara itu, fasilitas PMR berkapasitas 6.000 ton lumpur anoda per tahun mampu memurnikan emas, perak, serta logam kelompok platinum.
Baca Juga: Indonesia Dapat Tambahan Saham 12 Persen di Freeport, Jumlahnya Jadi Segini
Fasilitas tersebut menghasilkan sekitar:
- 800 ribu ton katoda tembaga per tahun
- 50 ton emas
- 200 ton perak
- 30 kilogram platinum
- 375 kilogram paladium
- 285 ton selenium
- 220 ton bismut
- 2.200 ton timbal
Seluruh produksi emas dari PMR direncanakan akan diserap oleh PT Aneka Tambang Tbk (Antam).
Produksi Tambang Pulih Bertahap hingga 2028
Tony menjelaskan operasional smelter sempat terganggu akibat kebakaran fasilitas gas cleaning plant pada Oktober 2024. Setelah berhasil diperbaiki dan kembali beroperasi pada Mei 2025, operasional kembali terdampak longsoran di Grasberg Block Cave yang menghentikan pasokan konsentrat.
Saat ini Freeport memanfaatkan penghentian operasi untuk melakukan inspeksi dan penyempurnaan fasilitas sebelum pasokan konsentrat dari Papua kembali mengalir mulai September 2026.
"Fokus kami saat ini adalah memastikan proses pemulihan tambang berjalan aman sehingga pasokan konsentrat kembali normal. Ketika sisi hulu pulih dan smelter beroperasi penuh, manfaat hilirisasi akan semakin optimal, baik dalam bentuk peningkatan produksi logam, penguatan industri dalam negeri, maupun peningkatan penerimaan negara," kata Tony.
Produksi tambang pada 2026 diperkirakan masih berada di kisaran 65 persen kapasitas. Angka tersebut ditargetkan meningkat menjadi sekitar 75 persen pada semester pertama 2027 sebelum kembali mencapai 100 persen pada akhir 2027.
Sejalan dengan pemulihan tersebut, target produksi logam juga meningkat secara bertahap:
- 2026: 800 juta pound tembaga dan 700 ribu ounce emas (sekitar 21 ton).
- 2027: 1,2 miliar pound tembaga dan 1 juta ounce emas (sekitar 31 ton).
- 2028: 1,6 miliar pound tembaga dan 1,4 juta ounce emas (sekitar 43 ton).
Kontribusi Negara Naik dari Rp42 Triliun Menjadi Rp120 Triliun
Freeport memperkirakan penerimaan negara akan meningkat signifikan seiring pulihnya produksi tambang.
Pada 2026, kontribusi kepada negara diperkirakan mencapai sekitar 2,6 miliar dolar AS. Nilai tersebut meningkat menjadi 4,7 miliar dolar AS pada 2027 dan diproyeksikan menembus lebih dari 7 miliar dolar AS atau sekitar Rp120 triliun per tahun setelah kapasitas produksi kembali normal.
Dalam rapat tersebut, Komisi XII DPR RI mengapresiasi langkah Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID dan PT Freeport Indonesia dalam memperkuat hilirisasi tembaga melalui pembangunan smelter dan PMR di Gresik yang dinilai mampu meningkatkan nilai tambah mineral, memperkuat industri pengolahan dalam negeri, serta memperbesar kontribusi terhadap perekonomian nasional.
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Surabaya