Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

MinyaKita Masih Mahal, Berikut 2 Penyebab Harga MinyaKita Masih di Atas HET

Hany Akasah • Selasa, 14 Juli 2026 | 16:07 WIB
Harga minyakita masih berada di atas HET dan terjadi di 514 kabupaten/kota di Indonesia.
Harga minyakita masih berada di atas HET dan terjadi di 514 kabupaten/kota di Indonesia.

radarsurabayabisnis.id - Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengungkap dua faktor utama yang membuat harga minyak goreng rakyat MinyaKita masih berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp15.700 per liter. Penyebabnya adalah tingginya harga di kawasan Indonesia timur serta berkurangnya pasokan ke pasar akibat sebagian stok dialokasikan untuk program bantuan pangan.

Direktur Bidang Pasar Dalam Negeri Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Nawandaru Dwi Putra, mengatakan berdasarkan pemantauan Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) per 10 Juli 2026, rata-rata harga MinyaKita secara nasional mencapai Rp15.865 per liter.

Baca Juga: Diduga Berbau Solar, Bulog Tarik MinyaKita di Karanganyar, Klaten, dan Wonogiri, Pabrik PT KMR Disidak

Harga tersebut masih berada di atas HET dan terjadi di 514 kabupaten/kota di Indonesia.

Harga Tinggi di Indonesia Timur Jadi Penyebab Utama

Menurut Nawandaru, tingginya harga MinyaKita terutama dipengaruhi oleh kondisi distribusi di kawasan Indonesia timur, seperti Papua, Maluku, Maluku Utara, dan sebagian Sulawesi Tenggara.

"Perkembangan harga yang masih berada di atas HET terutama dipengaruhi oleh harga di kawasan timur dan wilayah kepulauan, seperti Papua, Maluku, Maluku Utara, serta sebagian Sulawesi Tenggara," ujar Nawandaru dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar secara virtual dari Jakarta, Senin (13/7).

Selain faktor distribusi, pasokan MinyaKita di pasar juga berkurang karena selama Februari hingga Juni 2026 sebagian stok digunakan untuk mendukung program bantuan pangan pemerintah.

Kondisi tersebut membuat ketersediaan MinyaKita di pasar rakyat menurun sehingga berdampak pada kenaikan harga di tingkat konsumen.

Baca Juga: Nekat Jual Minyakita di Atas HET Rp15.700 per Liter, Pengecer Bakal Diblacklist

Bulog dan ID Food Diminta Percepat Distribusi

Untuk menstabilkan harga, Kemendag mulai mengoptimalkan distribusi MinyaKita ke pasar rakyat sejak 1 Juli 2026 melalui Perum Bulog dan ID Food.

Langkah tersebut dilakukan setelah diterbitkannya Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 20 Tahun 2026 yang mengubah Permendag Nomor 43 Tahun 2025 tentang Minyak Goreng Sawit Kemasan dan Tata Kelola Minyak Goreng Rakyat.

Nawandaru berharap distribusi MinyaKita kembali normal setelah tidak lagi difokuskan untuk mendukung program bantuan pangan.

"Sejak 1 Juli kami telah mendorong Bulog dan ID Food untuk mengoptimalkan pendistribusian MinyaKita, terutama ke pasar-pasar rakyat di kawasan timur," katanya.

Kemendag juga akan menggelar rapat dengan pemerintah daerah yang masih mencatat harga MinyaKita di atas HET pada Rabu (15/7) guna mempercepat langkah stabilisasi harga.

Realisasi DMO Terus Meningkat

Kemendag mencatat realisasi Domestic Market Obligation (DMO) minyak goreng menunjukkan tren positif.

Pada Mei 2026, realisasi DMO mencapai 87.882 ton dan meningkat menjadi 102.480 ton pada Juni 2026. Sementara hingga Juli 2026, realisasinya telah mencapai 23.803 ton.

Secara kumulatif, penyaluran DMO oleh BUMN selama periode 26 Desember 2025 hingga 10 Juli 2026 mencapai 362.432 ton atau sekitar 50 persen dari total alokasi DMO sebesar 724.866 ton.

Jumlah tersebut terdiri atas distribusi melalui Bulog sebanyak 276.500 ton atau 38,15 persen dan ID Food sebesar 85.932 ton atau 11,85 persen.

Kemendag berharap seluruh alokasi DMO dapat segera tersalurkan secara optimal ke pasar rakyat di berbagai daerah sehingga harga MinyaKita kembali sesuai HET.

Editor : Hany Akasah
#minyak goreng rakyat #bulog #HET Minyakita #ID Food #kemendag