RADAR SURABAYA BISNIS - Harga minyak dunia melonjak tajam pada Rabu (8/7) setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa gencatan senjata antara AS dan Iran telah berakhir.
Pernyataan tersebut langsung memicu kekhawatiran pasar akan eskalasi konflik baru di Timur Tengah, yang merupakan kawasan sumber pasokan minyak dunia.
Melansir data Kontan pada pukul 16.45 WIB, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak September 2026 melonjak sebesar 6,16% ke level US$78,73 per barel, yang merupakan level tertinggi sejak 22 Juni. Tren serupa terjadi pada minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak Agustus yang naik 6,01% menjadi US$74,67 per barel.
Lonjakan harga ini terjadi tak lama setelah Trump memberikan pernyataan di sela-sela KTT NATO di Ankara, Turki.
Baca Juga: PS Box Jadi Tren di Warkop Surabaya, Main PS4 Cuma Rp10 Ribu per Jam
Saat ditanya oleh wartawan mengenai status kesepakatan dengan Teheran, Trump menegaskan bahwa sejauh yang ia ketahui, gencatan senjata tersebut sudah berakhir karena menurutnya hubungan dengan Iran selama ini hanya membuang-buang waktu saja.
Ketegangan antara kedua negara ini sebenarnya bermula dari serangan udara militer AS terhadap instalasi Iran di kawasan Selat Hormuz.
Pihak AS mengklaim aksi tersebut merupakan respons atas dugaan sabotase Iran terhadap sejumlah kapal dagang internasional di jalur pelayaran strategis itu.
Menanggapi hal tersebut, Iran membalas dengan menyerang pangkalan militer AS sembari mengecam serangan awal Washington sebagai pelanggaran nyata terhadap Piagam PBB. Ironisnya, gencatan senjata yang kini dinyatakan berakhir oleh Trump tersebut baru saja disepakati sekitar tiga minggu sebelumnya. (yas/han)