RADAR SURABAYA BISNIS - Perum Bulog Kantor Wilayah Jawa Timur terus menambah kapasitas penyimpanan menyusul tingginya serapan gabah dan beras dari petani. Hingga awal Juli 2026, Bulog Jatim telah menyewa 233 kompleks pergudangan atau setara 262 unit gudang untuk menampung stok beras dan jagung.
Pimpinan Wilayah Bulog Jatim, Langgeng Wisnu Adinugroho mengatakan penambahan gudang dilakukan karena stok komoditas yang dikelola terus meningkat. Selain beras, sebagian gudang juga digunakan untuk menyimpan jagung.
"Per hari ini sudah 233 kompleks pergudangan yang kami sewa. Kalau dihitung per unit, totalnya mencapai 262 gudang. Tidak semuanya berisi beras, sebagian juga digunakan untuk menyimpan jagung," ujarnya kepada Radar Surabaya, Kamis (9/7).
Menurut Langgeng, Bulog Jatim mendapat target menyalurkan sekitar 122 ribu ton jagung untuk peternak hingga Desember 2026, terbesar di Indonesia. Hingga saat ini realisasinya telah mencapai sekitar 28 persen.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Bulog Jatim tidak hanya mengandalkan pengadaan dari dalam provinsi. Dalam waktu dekat, pasokan jagung juga akan didatangkan dari NTB, dari Sulsel, dari Sulut, Gorontalo, yang merupakan sentra produksi jagung nasional.
Baca Juga: Kirim Paket Bakal Makin Lancar, Telkomsel-SiCepat Rilis Paket Internet Khusus Buat Kurir Sampai 46GB
Di sisi lain, Jawa Timur juga terus menjadi daerah penyangga pangan nasional. Beras hasil serapan petani di Jatim rutin dikirim ke berbagai wilayah defisit, seperti Papua, Maluku, Nusa Tenggara Timur, Bali, Kalimantan hingga Sumatera sebagai bagian dari rantai pasok Bulog.
Langgeng menjelaskan, dari sisi penyaluran beras, Bulog memiliki tiga skema, yakni bantuan pangan, Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), serta bantuan untuk penanganan bencana.
Program bantuan pangan telah terealisasi 100 persen sesuai data penerima dari pemerintah. Bulog kini masih menunggu penugasan lanjutan untuk penyaluran pada Juli dari pemerintah pusat.
Sementara itu, penyaluran beras SPHP telah mencapai sekitar 84 ribu ton atau sekitar 85 persen dari target tahun ini. Secara volume, Jawa Timur menjadi salah satu daerah dengan penyaluran terbesar nasional dan kini menempati peringkat ketiga berdasarkan persentase realisasi.
"SPHP sangat membantu menjaga stabilitas harga beras di Jawa Timur. Inflasi pangan saat ini lebih banyak dipengaruhi kenaikan harga cabai rawit, bukan beras," katanya.
Untuk bantuan kebencanaan, Bulog telah menyalurkan cadangan beras pemerintah ke sejumlah daerah terdampak, di antaranya kawasan erupsi Semeru serta wilayah yang mengalami banjir seperti Lamongan.
Baca Juga: Resmi! Lowongan Kerja SKK Migas 2026 Dibuka, Cek Syarat dan Cara Daftarnya
Di sisi pengadaan, Bulog Jatim optimistis target serapan tahun 2026 akan segera tercapai. Hingga 7 Juli 2026, realisasi penyerapan telah mencapai 875.167 ton setara beras atau 99,01 persen dari target pengadaan tahun ini yang ditetapkan sebesar 883.912 ton.
"Target tinggal sekitar 10 ribu ton lagi. Dengan serapan harian sekitar seribu ton, kami optimistis dua pekan ke depan target sudah tercapai," ujar Langgeng.
Ia menambahkan, meski musim tanam kedua diperkirakan tidak sebesar musim panen pertama, kualitas gabah umumnya lebih baik karena curah hujan lebih rendah. Panen di sejumlah daerah seperti Lamongan dan Ngawi juga mulai berlangsung.
Secara nasional, pemerintah menargetkan Bulog menyerap 4 juta ton beras pada 2026. Hingga kini realisasinya telah mencapai sekitar 3,2 juta ton atau lebih dari 80 persen. Bahkan, stok beras yang dikelola Bulog secara nasional telah menembus sekitar 5 juta ton, melampaui rekor sebelumnya.
Khusus di Jawa Timur, stok yang dikuasai Bulog kini mencapai sekitar 1,3 juta ton, sementara kapasitas gudang milik Bulog hanya sekitar 1,1 juta ton. Kondisi itulah yang mendorong Bulog terus menambah gudang sewaan agar seluruh hasil panen petani tetap dapat diserap secara optimal. (mus)
foto : Pimwil Bulog Jatim Langgeng Wisnu Adinugroho saat mendampingi anggota Komisi X DPR RI Ahmad Dhani yang meninjau gudang bulog di Jatim (mus)
Editor : Hany Akasah