radarsurabayabisnis.id - Istilah MBG yang belakangan ramai diperbincangkan publik mendapat tafsir berbeda dari kalangan seniman di Surabaya. Komunitas perupa Aksi Seniman Surabaya (ASSU) menggelar pameran bertajuk "MBG" di Galeri Merah Putih, Balai Pemuda Surabaya, sebagai ruang refleksi terhadap berbagai persoalan sosial yang terjadi di masyarakat.
Pameran tersebut berlangsung hingga 5 Juli 2026 dan menampilkan puluhan karya dari seniman Surabaya dan sekitarnya dengan beragam aliran dan pesan sosial.
MBG Ternyata Singkatan dari Melukis Bebas Guys
Ketua Aksi Seniman Surabaya, Muit Arsa, menjelaskan bahwa MBG dalam pameran ini bukan berarti Makan Bergizi Gratis, melainkan singkatan dari "Melukis Bebas Guys".
Menurutnya, pemilihan judul tersebut merupakan permainan kata sekaligus sindiran terhadap berbagai persoalan sosial yang muncul akibat penyalahgunaan amanah oleh pihak-pihak yang diberi kepercayaan mengelola kepentingan publik.
"Melalui pameran ini kami ingin menunjukkan bahwa seni tetap menjadi ruang yang bebas untuk menyampaikan gagasan, kritik, harapan, dan refleksi. Seni tidak hadir untuk menghakimi, tetapi mengajak masyarakat berpikir lebih kritis dan bijaksana," ujar Muit, Rabu (1/7).
Puluhan Seniman Tampilkan Kritik Sosial Lewat Karya
Puluhan perupa dari Surabaya dan sekitarnya turut ambil bagian dalam pameran yang digelar di Galeri Merah Putih tersebut.
Berbagai karya ditampilkan dengan ragam aliran, mulai dari realisme, ekspresionisme, surealisme, abstrak hingga seni kontemporer.
Baca Juga: Lia Istifhama Apresiasi Seniman Campursari Susigres: Menjaga Budaya adalah Menjaga Jati Diri Bangsa
Keberagaman tersebut menjadi gambaran bahwa kebebasan berekspresi merupakan salah satu kekuatan utama dalam dunia seni rupa.
Dari Kritik Sosial hingga Pesan Integritas
Setiap karya menghadirkan sudut pandang yang berbeda-beda.
Ada karya yang menyampaikan kritik sosial, menggambarkan harapan masyarakat, hingga mengajak pengunjung merenungkan pentingnya menjaga integritas, kejujuran, dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat.
Menurut Muit, seni memiliki kemampuan menjadi ruang dialog yang mampu membangun kesadaran bersama tanpa harus menggurui.
Ia berharap masyarakat tidak hanya menikmati karya dari sisi estetika semata, tetapi juga menangkap pesan yang ingin disampaikan para seniman melalui setiap lukisan yang dipamerkan.
Seni Menjadi Suara Ketika Kata-kata Tak Lagi Didengar
Selain menjadi ruang kritik sosial, pameran ini juga diharapkan mampu membangkitkan semangat para perupa agar terus produktif berkarya dan aktif mengikuti berbagai pameran seni.
Dengan demikian, eksistensi seni rupa di Surabaya dapat terus berkembang sekaligus memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
"Melukis itu bebas. Berkarya itu merdeka. Seni akan selalu menjadi suara ketika kata-kata tak lagi cukup didengar," pungkas Muit.
Editor : Hany Akasah