Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

B50 Resmi Berlaku Mulai Besok, Sawit Melejit dan Impor Solar Ditekan

Hany Akasah • Selasa, 30 Juni 2026 | 16:18 WIB
Resmi Mulai 1 Juli 2026, Pemerintah Terapkan B50
Resmi Mulai 1 Juli 2026, Pemerintah Terapkan B50

radarsurabayabisnis.id - Pemerintah resmi menaikkan kadar campuran biodiesel dari 40 persen menjadi 50 persen atau B50 yang mulai berlaku pada 1 Juli 2026. Kebijakan ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah industri sawit dalam negeri.

Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan, Eddy Abdurrachman, mengatakan implementasi B50 merupakan kelanjutan dari program mandatori biodiesel yang selama ini terbukti memberikan manfaat besar bagi perekonomian nasional.

Menurutnya, program biodiesel tidak hanya mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar fosil, tetapi juga membantu menekan emisi karbon dan memperluas pasar domestik bagi produk sawit nasional.

Baca Juga: Biodiesel B50 Resmi Meluncur 1 Juli, Ini Efeknya Bagi Harga Biosolar dan Impor Minyak

"Program biodiesel telah menjadi instrumen strategis memperkuat ketahanan energi dan menciptakan pasar domestik yang kuat bagi sawit Indonesia," ujar Eddy di Jakarta, Senin (29/6).

B50 Ditargetkan Tekan Impor Solar dan Emisi Karbon

Penerapan B50 diperkirakan akan semakin mengurangi kebutuhan impor solar yang selama ini masih cukup besar. Selain itu, penggunaan biodiesel berbasis sawit juga dinilai efektif menekan emisi gas rumah kaca sehingga mendukung target transisi energi nasional.

Eddy menjelaskan, kebijakan ini juga berpotensi menjaga stabilitas industri sawit nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan jutaan pekebun sawit di berbagai daerah.

Baca Juga: Tekan Impor Solar, Implementasi B50 Diproyeksikan Hemat Devisa 17,9 Persen dan Serap Jutaan Pekerja

"B50 akan mengurangi impor solar, menekan emisi gas rumah kaca CO₂, serta menstabilkan industri sawit nasional," katanya.

Biodiesel Sudah Hemat Devisa Rp722,9 Triliun

Data Kementerian ESDM menunjukkan program biodiesel selama periode 2015 hingga 2025 telah menghasilkan penghematan devisa yang sangat signifikan, mencapai Rp722,9 triliun.

Selain itu, hilirisasi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) menjadi biodiesel berhasil menciptakan nilai tambah ekonomi sebesar Rp114,7 triliun.

Program ini juga memberikan dampak besar terhadap penyerapan tenaga kerja di sektor perkebunan dan industri pengolahan sawit yang mencapai 10,9 juta orang.

Dari sisi lingkungan, implementasi biodiesel berhasil menekan emisi karbon hingga 228,41 juta ton CO₂.

"Capaian ini membuktikan biodiesel tidak hanya soal energi, tetapi juga penggerak ekonomi dan hilirisasi," ujar Eddy.

BPDP Perkuat Hulu Sawit untuk Dukung Keberhasilan B50

Eddy menegaskan keberhasilan implementasi B50 tidak dapat dipisahkan dari penguatan sektor hulu perkebunan sawit.

Karena itu, BPDP terus menjalankan berbagai program strategis seperti Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), pengembangan riset, pelatihan sumber daya manusia, hingga penyediaan sarana dan prasarana perkebunan.

Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas kebun rakyat sehingga pasokan bahan baku biodiesel tetap terjaga di tengah meningkatnya kebutuhan domestik.

BPDP juga memastikan pengelolaan dana dilakukan secara transparan dan akuntabel guna menjamin keberlanjutan program dalam jangka panjang.

Ke depan, pemerintah menargetkan pengembangan energi terbarukan berbasis sawit dapat memberikan manfaat yang semakin besar bagi ketahanan energi nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pelaku usaha perkebunan.

Pemerintah resmi menaikkan kadar campuran biodiesel dari 40 persen menjadi 50 persen atau B50 yang mulai berlaku pada 1 Juli 2026. Kebijakan ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah industri sawit dalam negeri.

Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan, Eddy Abdurrachman, mengatakan implementasi B50 merupakan kelanjutan dari program mandatori biodiesel yang selama ini terbukti memberikan manfaat besar bagi perekonomian nasional.

Menurutnya, program biodiesel tidak hanya mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar fosil, tetapi juga membantu menekan emisi karbon dan memperluas pasar domestik bagi produk sawit nasional.

"Program biodiesel telah menjadi instrumen strategis memperkuat ketahanan energi dan menciptakan pasar domestik yang kuat bagi sawit Indonesia," ujar Eddy di Jakarta, Senin (29/6).

B50 Ditargetkan Tekan Impor Solar dan Emisi Karbon

Penerapan B50 diperkirakan akan semakin mengurangi kebutuhan impor solar yang selama ini masih cukup besar. Selain itu, penggunaan biodiesel berbasis sawit juga dinilai efektif menekan emisi gas rumah kaca sehingga mendukung target transisi energi nasional.

Eddy menjelaskan, kebijakan ini juga berpotensi menjaga stabilitas industri sawit nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan jutaan pekebun sawit di berbagai daerah.

"B50 akan mengurangi impor solar, menekan emisi gas rumah kaca CO₂, serta menstabilkan industri sawit nasional," katanya.

Biodiesel Sudah Hemat Devisa Rp722,9 Triliun

Data Kementerian ESDM menunjukkan program biodiesel selama periode 2015 hingga 2025 telah menghasilkan penghematan devisa yang sangat signifikan, mencapai Rp722,9 triliun.

Selain itu, hilirisasi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) menjadi biodiesel berhasil menciptakan nilai tambah ekonomi sebesar Rp114,7 triliun.

Program ini juga memberikan dampak besar terhadap penyerapan tenaga kerja di sektor perkebunan dan industri pengolahan sawit yang mencapai 10,9 juta orang.

Dari sisi lingkungan, implementasi biodiesel berhasil menekan emisi karbon hingga 228,41 juta ton CO₂.

"Capaian ini membuktikan biodiesel tidak hanya soal energi, tetapi juga penggerak ekonomi dan hilirisasi," ujar Eddy.

BPDP Perkuat Hulu Sawit untuk Dukung Keberhasilan B50

Eddy menegaskan keberhasilan implementasi B50 tidak dapat dipisahkan dari penguatan sektor hulu perkebunan sawit.

Karena itu, BPDP terus menjalankan berbagai program strategis seperti Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), pengembangan riset, pelatihan sumber daya manusia, hingga penyediaan sarana dan prasarana perkebunan.

Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas kebun rakyat sehingga pasokan bahan baku biodiesel tetap terjaga di tengah meningkatnya kebutuhan domestik.

BPDP juga memastikan pengelolaan dana dilakukan secara transparan dan akuntabel guna menjamin keberlanjutan program dalam jangka panjang.

Ke depan, pemerintah menargetkan pengembangan energi terbarukan berbasis sawit dapat memberikan manfaat yang semakin besar bagi ketahanan energi nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pelaku usaha perkebunan.

Editor : Hany Akasah
#perkebunan sawit #sawit #b50 #Impor solar