RADAR SURABAYA BISNIS – Pemerintah Indonesia melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Perum Bulog mencatatkan pencapaian monumental dalam sejarah ketahanan pangan nasional.
Impor pangan pokok strategis kini berhasil ditekan hingga kisaran 5 persen, jauh di bawah batas maksimal 10 persen yang ditetapkan oleh Food and Agriculture Organization (FAO).
Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa pencapaian ini menjadi indikator kuat solidnya sektor pangan di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Baca Juga: CNG 3 Kg Pengganti LPG Resmi Diluncurkan, Warga Tak Perlu Beli Tabung, Ini Mekanismenya
“Definisi yang kita sepakati, swasembada pangan adalah maksimal impor 10 persen, ini kita hanya 5 persen. Konsensus FAO juga menetapkan maksimal 10 persen,” ungkap Amran dalam pernyataannya di Jakarta.
Berdasarkan kalkulasi Bapanas, dari total kebutuhan konsumsi 11 komoditas pangan strategis yang mencapai 68,7 juta ton per tahun, volume impor hanya berada di angka 3,5 juta ton (sekitar 5,1 persen). Sementara itu, produksi dalam negeri tercatat melimpah hingga 73,7 juta ton.
Sejalan dengan membaiknya neraca pangan, stabilitas bisnis dan pasokan juga diperkuat oleh pencapaian bersejarah Perum Bulog. Per 23 April 2026, stok beras yang dikelola BUMN pangan tersebut menembus angka 5.000.198 ton, menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah pengelolaan CBP.
Eskalasi stok ini melonjak tajam hingga 264,2 persen dibandingkan periode yang sama dua tahun lalu. Pencapaian ini didorong oleh masifnya realisasi serapan produksi dalam negeri yang mencapai 2,31 juta ton hingga April 2026.
Direktur Bulog, Rizal, menyebutkan bahwa melimpahnya stok ini merupakan bukti nyata kehadiran negara dalam menjamin ketersediaan pangan sekaligus menjaga stabilitas harga di pasar.
Cadangan yang kokoh ini juga disiapkan sebagai bantalan ekonomi menghadapi dampak geopolitik global dan ancaman kekeringan ekstrem (El Nino).
“Pencapaian 5 juta ton ini adalah wujud komitmen Bulog. Gudang kami terbuka untuk dicek secara langsung sebagai bentuk transparansi pemerintah memastikan ketersediaan beras nasional,” jelas Rizal.
Dengan kepastian pasokan karbohidrat dan protein, ketahanan pangan nasional dipastikan berada dalam kondisi yang sangat prima, memberikan fondasi kuat bagi pertumbuhan ekonomi domestik ke depan.
Baca Juga: Bank Mulai Tinggalkan Kredit Konsumtif, Lima Sektor Ini Jadi Favorit Pembiayaan
Editor : Hany Akasah