RADAR SURABAYA BISNIS – Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tengah memantapkan langkah strategis untuk mencetak 10 juta wirausaha baru pada tahun 2029.
Ujung tombak dari strategi nasional ini berpusat pada penguatan kapasitas dan kualitas layanan lembaga inkubator bisnis di berbagai wilayah, termasuk di lingkungan perguruan tinggi.
Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM, Riza Damanik, mengungkapkan bahwa pendampingan inkubator sangat krusial bagi keberlanjutan bisnis.
Berdasarkan berbagai penelitian, pelaku usaha yang mengikuti program inkubasi memiliki tingkat keberhasilan yang jauh lebih tinggi dibandingkan mereka yang membangun usaha secara mandiri tanpa pendampingan.
“Banyak orang yang memiliki ide bisnis, tetapi belum mampu mewujudkannya menjadi usaha yang berkelanjutan. Melalui lembaga inkubator, calon wirausaha dapat memperoleh pendampingan, akses pembiayaan, pemasaran, serta standardisasi untuk memperkuat ekosistem kewirausahaan," jelas Riza dalam Talkshow UMKM Insight di Jakarta, Rabu (24/6).
Untuk mengakselerasi target pencapaian 10 juta wirausaha, Kementerian UMKM mengintegrasikan peran inkubator dengan dua program prioritas utama: Bursa Wirausaha Unggulan dan Program Kesejahteraan Produktif (Pro-Kesra Produktif).
Selain itu, untuk memastikan pemerataan akses pendampingan hingga ke pelosok daerah, pemerintah turut mengoptimalkan platform digital SAPA UMKM.
Langkah proaktif pemerintah ini mendapat sambutan positif dari kalangan akademisi dan praktisi. Head of BINUS Incubator, Aloysius Bernanda Gunawan, menegaskan bahwa calon pengusaha dan pelaku usaha rintisan mutlak membutuhkan pendampingan komprehensif—mulai dari tahap penyusunan ide, pengembangan prototipe, hingga menjadi produk yang kompetitif di pasar.
Senada dengan hal tersebut, Founder Kasisolus, Deryansha Azhary, menyoroti pentingnya pembekalan skill yang relevan dengan era digital.
Baca Juga: Borong Tujuh Penghargaan di Infobank 2026, Bank Jatim Tegaskan Konsistensi Layanan Prima
Menurutnya, pelatihan wirausaha modern tidak boleh hanya berhenti pada aspek teknis bisnis, melainkan harus mencakup literasi digital, kemampuan komunikasi, dan penguatan *personal branding*.
"Pendampingan usaha yang merata melalui SAPA UMKM memberikan peluang yang setara bagi seluruh pelaku UMKM untuk berkembang. Dengan demikian, pertumbuhan usaha tidak hanya terjadi di kota-kota besar," tutup Deryansha.
Melalui sinergi antara pemerintah, inkubator perguruan tinggi, dan praktisi bisnis, penguatan ekosistem kewirausahaan ini diharapkan dapat menjadi fondasi kokoh untuk menyambut bonus demografi dan mewujudkan Visi Indonesia Emas 2045.
Baca Juga: Genjot Program E20 di 2028, Pemerintah Siap Pangkas Impor 4 Juta KL Bensin dan Serap Etanol Petani
Editor : Hany Akasah