IHSG Ditutup Anjlok 3,56 Persen, Berikut Deretan Saham yang Diam-diam Masih Diburu Asing

Hany Akasah • Dipublikasikan Rabu, 24 Juni 2026 | 19:11 WIB
HANCUR LEBUR : IHSG ditutup anjlok 3,56% ke level 5.884 hari ini (24/6). Isu penurunan kelas dari Emerging Market ke Frontier Market oleh MSCI plus rupiah yang mepet Rp 18.000 bikin asing ramai-ramai net sell Rp 1,23 T. (IST/ RADAR SURABAYA BISNIS)
HANCUR LEBUR : IHSG ditutup anjlok 3,56% ke level 5.884 hari ini (24/6). Isu penurunan kelas dari Emerging Market ke Frontier Market oleh MSCI plus rupiah yang mepet Rp 18.000 bikin asing ramai-ramai net sell Rp 1,23 T. (IST/ RADAR SURABAYA BISNIS)

RADAR SURABAYA BISNIS -Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hancur lebur pada penutupan perdagangan Rabu (24/6/2026). Indeks ditutup anjlok signifikan sebesar 3,56 persen atau terkoreksi 217 poin ke level 5.884.

Padahal pada awal perdagangan, IHSG sempat bergerak menguat dan menyentuh area tertinggi harian di level 6.171,38. Namun, tekanan jual yang terus meningkat sepanjang hari membuat indeks berbalik arah secara drastis hingga sempat menyentuh level terendah di 5.876,93 sebelum akhirnya ditutup di zona merah.

Ambruknya IHSG hari ini dipicu oleh respons negatif pasar terhadap laporan penyedia indeks saham global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), dalam Annual Market Classification Review.

Meski MSCI masih mempertahankan status pasar modal Indonesia di posisi Emerging Market, lembaga tersebut membuka opsi untuk menurunkan status Indonesia ke Frontier Market jika tidak ada perubahan berarti pada reformasi pasar modal hingga November 2026.

Baca Juga: Stop Flexing Berlebihan, Financial Influencer Nakal Siap-Siap Kena Sanksi Belasan Miliar

Sentimen ini dinilai menjadi pukulan telak bagi kepercayaan investor. "Hal ini direspons negatif oleh investor, di tengah minimnya katalis positif di bursa," tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya, Rabu (24/6/2026).

Dihubungi terpisah, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa anjloknya IHSG pasca-pengumuman MSCI menunjukkan ekspektasi pasar, terutama investor asing, yang belum sepenuhnya terpenuhi. Regulasi yang akomodatif dan perbaikan bobot (weighting) menjadi hal yang diantisipasi namun belum tampak dari hasil evaluasi tersebut.

"Ketika hasil review tidak membawa katalis positif baru atau justru menyoroti isu struktural, aliran dana keluar (capital outflow) jangka pendek menjadi respons alami akibat aksi ambil untung (profit taking) atau rebalancing portofolio," jelas Nafan.

Selain faktor domestik dari MSCI, Nafan menambahkan bahwa tekanan eksternal dari dinamika geopolitik di Timur Tengah terkait program nuklir Iran turut memperkeruh suasana. Situasi global kian diperberat dengan pergeseran narasi pasar mengenai suku bunga.

"Ditambah lagi dengan narasi market bergeser menjadi higher for longer, bahkan sebagian pelaku pasar mulai menunda ekspektasi pemangkasan Fed Rate. Kondisi ini biasanya kurang ideal untuk emerging market termasuk Indonesia," ungkap Nafan.

Baca Juga: Stok Beras Cetak Rekor 5,3 Juta Ton, Aman hingga Mei 2027 dan Siap Hadapi El Nino

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), tekanan eksternal dan domestik ini memicu aksi jual bersih (net sell) investor asing yang masif di pasar reguler. Aksi keluar dana asing ini membebani sejumlah saham berkapitalisasi besar (big caps) yang selama ini menjadi penopang utama indeks.

Beberapa saham utama yang paling banyak dilepas asing di antaranya adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI).

Di tengah derasnya tekanan jual tersebut, investor asing terpantau masih melakukan akumulasi atau beli bersih (net buy) pada beberapa saham tertentu untuk menjaga portofolio mereka. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) memimpin sebagai saham dengan nilai beli bersih terbesar oleh asing.

Selain BREN, investor asing juga memburu saham-saham lain seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR).

Sentimen negatif pasar modal ini juga diperparah oleh kondisi makroekonomi, di mana nilai tukar Rupiah kembali bergerak melemah mendekati ambang batas Rp 18.000 per Dolar AS.

Koreksi tajam yang dialami IHSG ini terjadi secara merata di mayoritas saham yang diperdagangkan, dengan mencatatkan sebanyak 611 saham bergerak turun, sementara hanya 98 saham yang menguat, dan 104 saham lainnya ditutup stagnan.

Aktivitas perdagangan di bursa hari ini terbilang sangat ramai dengan volume transaksi mencapai 26,94 miliar lembar saham dan frekuensi perdagangan yang menembus 2,03 juta kali. Adapun total nilai transaksi harian tercatat mencapai Rp 15,16 triliun. Seiring dengan kemerosotan tajam indeks hari ini, kapitalisasi pasar (market cap) di Bursa Efek Indonesia langsung menyusut drastis ke level Rp 10.338,13 triliun. (nov/han)

Editor : Hany Akasah
Sumber : radar surabaya bisnis
anjlok ihsg saham bbri pasar modal