radarsurabayabisnis.id - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya belum berencana menambah mesin Refuse Derived Fuel (RDF) pada 2026. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya memilih mengevaluasi hasil pengadaan sebelumnya sekaligus mematangkan kerja sama dengan industri semen dan PLN agar hasil olahan sampah dapat dimanfaatkan secara optimal.
Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang Pemkot Surabaya dalam mengurangi ketergantungan terhadap Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo sekaligus mendorong pemanfaatan sampah menjadi sumber energi alternatif yang bernilai ekonomi.
Baca Juga: Masalah Sampah Jadi Prioritas, Prabowo Targetkan Pengendalian dalam 2–3 Tahun Mendatang
Fokus Evaluasi Sebelum Menambah Mesin Baru
Kepala Bidang Sarana dan Prasarana DLH Kota Surabaya, Ali Mustofa, mengatakan belum ada rencana pengadaan mesin RDF baru pada tahun ini. Pemkot ingin memastikan efektivitas pengolahan sampah yang sudah berjalan sebelum melakukan ekspansi fasilitas.
“Tidak ada pengadaan tahun ini karena kami masih melakukan evaluasi terhadap hasil pengadaan tahun lalu,” kata Ali Mustofa saat dikonfirmasi Radar Surabaya, Jumat (19/6/2026).
Menurutnya, evaluasi tersebut penting untuk mengukur kinerja teknologi RDF yang telah diterapkan serta memastikan hasil produksinya dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh sektor industri.
Sampah Surabaya Akan Jadi Bahan Bakar Industri
Ali menjelaskan, pengembangan RDF tidak hanya berorientasi pada pengurangan volume sampah yang masuk ke TPA Benowo. Lebih dari itu, Pemkot Surabaya ingin menciptakan ekosistem pengelolaan sampah yang memiliki nilai ekonomi dan mendukung transisi energi.
Karena itu, Pemkot saat ini tengah menyiapkan kerja sama dengan sejumlah calon pengguna (offtaker), seperti industri semen dan PLN.
“Ke depan hasil pengolahan RDF ini akan dikerjasamakan dengan industri semen dan PLN sehingga sampah tidak semuanya dibuang ke TPA Benowo,” ujarnya.
Jika kerja sama berjalan sesuai rencana, RDF hasil pengolahan sampah Surabaya akan dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif pengganti sebagian batu bara di sektor industri dan pembangkit listrik.
Masih Menyesuaikan Kebutuhan Industri
Meski penjajakan kerja sama telah dilakukan sejak tahun lalu, prosesnya masih berada pada tahap penyesuaian spesifikasi teknis. Industri penerima dan Pemkot Surabaya masih mengkaji komposisi RDF yang paling sesuai dengan kebutuhan operasional masing-masing.
“Sekarang akan dilakukan kerja samanya untuk mengetahui komposisi hasil RDF yang sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan oleh offtaker,” jelas Ali.
Penyesuaian tersebut dinilai penting agar RDF yang diproduksi benar-benar memenuhi standar kualitas yang dibutuhkan industri pengguna.
Sampah Organik Tetap Diolah Menjadi Kompos
Sambil menunggu realisasi kerja sama dengan PLN dan industri semen, DLH Surabaya tetap mengoptimalkan pemanfaatan sampah yang telah diolah.
Sampah organik dimanfaatkan menjadi kompos untuk berbagai kebutuhan penghijauan dan pertanian. Sementara RDF dipersiapkan sebagai bahan bakar campuran untuk proses pembakaran bersama batu bara.
“Yang organik dimanfaatkan menjadi kompos, sedangkan RDF-nya direncanakan untuk bahan bakar campuran pembakaran bersama batu bara melalui kerja sama dengan industri semen dan PLN,” pungkasnya.
### Kurangi Beban TPA Benowo dan Dorong Energi Alternatif
Pemanfaatan RDF menjadi salah satu solusi yang diharapkan mampu mengurangi beban TPA Benowo yang selama ini menjadi pusat pengelolaan sampah Kota Surabaya. Selain mengurangi volume sampah yang ditimbun, teknologi ini juga membuka peluang pemanfaatan sampah sebagai sumber energi alternatif yang lebih ramah lingkungan.
Dengan strategi tersebut, Pemkot Surabaya berharap pengelolaan sampah tidak lagi berfokus pada pembuangan, melainkan menjadi bagian dari ekonomi sirkular yang menghasilkan manfaat lingkungan sekaligus nilai ekonomi bagi daerah.
Editor : Hany Akasah