Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Kenaikan Pertamax Hanya Sumbang 0,25 Persen, BI Ungkap Ancaman Inflasi yang Sebenarnya

Hany Akasah • Jumat, 19 Juni 2026 | 17:17 WIB
Bank Indonesia mengungkap dampak kenaikan pertamax terhadap inflasi hanya sekitar 0,25 persen.
Bank Indonesia mengungkap dampak kenaikan pertamax terhadap inflasi hanya sekitar 0,25 persen.

radarsurabayabisnis.id - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi seperti Pertamax dipastikan tidak akan mengguncang laju inflasi nasional. Bank Indonesia (BI) memperkirakan dampak langsung penyesuaian harga tersebut terhadap inflasi hanya sekitar 0,25 persen dan masih berada dalam batas yang aman.

Deputi Gubernur BI, Aida S. Budiman, menjelaskan bahwa kontribusi kenaikan BBM nonsubsidi terhadap inflasi relatif kecil dibanding berbagai risiko lain yang saat ini membayangi perekonomian nasional.

"Untuk sementara, hitungan kami lebih kurang berkontribusi sekitar 0,25 persen kepada inflasi," ujar Aida dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (18/6).

Baca Juga: ESDM Pastikan Harga Pertamax Cs Bakal Turun Jika Minyak Dunia Turun

Menurut BI, sumber tekanan inflasi yang lebih perlu diwaspadai justru berasal dari gejolak harga minyak dunia. Kenaikan harga energi global menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kebijakan penyesuaian harga BBM nonsubsidi di dalam negeri.

Aida menjelaskan bahwa perubahan harga energi tidak seluruhnya mengarah pada kenaikan. Beberapa jenis BBM mengalami penyesuaian berbeda.

"Secara langsung, kita lihat pada administered prices atau harga-harga yang ditentukan oleh pemerintah. Kemarin ada perubahan harga BBM nonsubsidi, ada yang naik seperti Pertamax, tetapi ada juga yang turun seperti Dexlite dan Pertamina Dex," katanya.

Selain faktor energi, BI juga menyoroti potensi kenaikan harga pangan akibat fenomena El Nino yang diperkirakan mulai memengaruhi produksi pertanian pada paruh kedua tahun ini.

Baca Juga: Pertamax Tembus Rp 16.250 per Liter, Seberapa Mahal Bensin Kita Dibanding Negara ASEAN?

Gangguan cuaca diperkirakan mulai terasa sejak akhir Juni hingga Oktober atau November mendatang. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu pasokan sejumlah komoditas pangan dan memicu kenaikan harga di tingkat konsumen.

Meski demikian, BI menilai pemerintah bersama berbagai pemangku kepentingan telah melakukan langkah antisipasi untuk menjaga ketersediaan pasokan dan menekan gejolak harga pangan.

Di sisi lain, risiko inflasi dari sektor pupuk dinilai masih terkendali. Produksi pupuk dalam negeri disebut cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional sehingga tidak menimbulkan tekanan tambahan terhadap harga-harga.

Dengan mempertimbangkan seluruh faktor tersebut, BI memperkirakan inflasi akan bergerak naik dibanding periode sebelumnya. Namun kenaikannya diyakini tetap berada dalam rentang sasaran nasional.

Bank sentral optimistis inflasi tetap terjaga pada target 2,5 persen plus minus 1 persen, atau maksimal 3,5 persen hingga akhir tahun.

"Dengan hal itu semua, memang proyeksi inflasi mulai mengalami peningkatan, tetapi semuanya masih dalam target 2,5 plus minus 1 persen. Jadi, paling tinggi 3,5 persen dan itu masih dalam target," pungkas Aida.

Editor : Hany Akasah
#pertamax naik #bi #cuaca buruk #inflasi #el nino