Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Menyelamatkan Masa Depan Pangan Nasional, Trik Baru Menjadikan Pertanian Profesi Incaran Anak Muda

Hany Akasah • Jumat, 19 Juni 2026 | 13:38 WIB
PETANI: Pemerintah kini mendorong sistem diversifikasi tanam dan pengelolaan lahan skala besar untuk menaikkan kesejahteraan serta menarik minat bisnis generasi muda ke sektor pertanian.
PETANI: Pemerintah kini mendorong sistem diversifikasi tanam dan pengelolaan lahan skala besar untuk menaikkan kesejahteraan serta menarik minat bisnis generasi muda ke sektor pertanian.

RADAR SURABAYA BISNIS – Sektor pertanian di Indonesia tengah menghadapi tantangan serius terkait regenerasi. Banyak generasi muda, termasuk Milenial dan Gen Z, enggan turun ke sawah lantaran melekatnya stigma bahwa profesi petani identik dengan kemiskinan, ketidakpastian pendapatan, dan kerja kasar.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per 2021, dari total tenaga kerja pertanian, jumlah petani muda berusia 16-30 tahun hanya menyisakan sekitar 3,95 juta jiwa atau sekitar 21,9 persen.

Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI), Henry Saragih, menilai keengganan ini berakar dari minimnya akses lahan produktif bagi pemuda. 

Baca Juga: Pemerintah Guyur Triliunan Rupiah untuk Infrastruktur Pertanian Hadapi El Nino, Ini Rinciannya

“Kalau jadi petani ya pasti hidupnya susah. Itu yang dilihat sekarang. Padahal kalau bertani bisa hidup layak, punya tanah, tentu orang mau jadi petani,” jelas Henry.

Meski demikian, di balik bayang-bayang krisis regenerasi tersebut, sektor agribisnis saat ini justru menyimpan potensi keuntungan ekonomi yang masif jika dikelola dengan sistem yang modern.

Manajer Pemasaran Gapoktan, R. Bangun, mengungkapkan bahwa sistem tanam monokultur—seperti hanya menanam padi—menjadi salah satu alasan bertani kurang menarik dari segi perputaran kas bisnis.

Baca Juga: Tegaskan Himbara Penggerak Ekonomi Rakyat, Presiden Prabowo Minta Fokus Sokong UMKM

"Kalau hanya pertanian padi saja, monokultur, itu tidak menarik bagi generasi muda. Karena panennya sekali dalam 3-4 bulan. Menerima uangnya banyak, tapi 4 bulan. Jadi bulanan itu nggak ada," ujarnya.

Sebagai solusi bisnis, diversifikasi tanaman melalui skema seperti "Lumbung Pangan Mataraman" mulai diterapkan. Dalam skema ini, petani didorong membagi lahannya untuk berbagai jenis tanaman dengan waktu panen yang berbeda. 

Petani bisa mengatur petak lahan untuk panen harian (sawi, bayam cabut), mingguan, bulanan (tomat, cabai), hingga panen per tiga bulan (padi). Sistem ini memastikan adanya cash flow atau perputaran uang yang sehat setiap harinya.

Baca Juga: Kisah Sriatun, Lansia 68 Tahun Penjaga Warkop di Surabaya Dapat Bantuan Modal

Pemerintah juga terus melakukan intervensi untuk menggeser paradigma pertanian gurem menjadi korporasi petani yang menjanjikan secara finansial. Salah satunya melalui program pembentukan Brigade Pangan.

Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, memastikan bahwa bertani kini bisa mendatangkan penghasilan hingga puluhan juta rupiah. Pemerintah memfasilitasi sarana produksi dan mengonsolidasikan lahan luas agar dapat dikelola secara kolektif oleh petani milenial.

Dengan perhitungan 15 orang mengelola lahan seluas 200 hektare yang diiringi hasil panen maksimal, pendapatan bersih bisa melambung tinggi. 

Baca Juga: Kisah Sriatun, Lansia 68 Tahun Penjaga Warkop di Surabaya Dapat Bantuan Modal

"Pendapatannya setelah dihitung, dikurangi beban biaya dan seterusnya, itu 15 orang masing-masing sebulannya rata-rata dapat Rp 15 sampai Rp 20 juta," tegas Sudaryono.

Selain perbaikan sistem tanam dan lahan, perbaikan citra juga tak kalah penting. Head of Secretariat Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (FORTASBI), Rukaiyah Rafik, menyoroti pentingnya peran kreator konten muda untuk menceritakan realitas positif dan potensi keberlanjutan dari sektor pertanian, guna mengimbangi narasi negatif yang selama ini mendominasi media sosial.

Dengan kombinasi akses lahan, diversifikasi panen, dan modernisasi sistem, profesi petani kini bukan lagi sekadar pekerjaan bertahan hidup, melainkan peluang bisnis menjanjikan yang patut dilirik oleh generasi muda.

Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.828 Meski Suku Bunga BI Naik, Pasar Domestik Menanti Keputusan MSCI

Editor : Hany Akasah
#diversifikasi #petani #pertanian #muda #anak muda