RADAR SURABAYA BISNIS – Pemerintah Indonesia tengah mempercepat langkah strategis untuk merealisasikan target swasembada susu nasional pada tahun 2029.
Dengan besarnya gap antara ketersediaan dan permintaan, sektor persusuan kini menawarkan peluang bisnis dan investasi yang sangat menjanjikan dalam ekosistem agroindustri nasional.
Berdasarkan data Kementerian Pertanian (Kementan) per 6 Juni 2026, total kebutuhan susu nasional mencapai 4,7 juta ton per tahun.
Baca Juga: Tak Bisa Sembarangan Lagi, Produksi Air Minum Kemasan Bakal Wajib SNI di 2026
Namun, kapasitas produksi dalam negeri saat ini baru mampu menyuplai 0,9 juta ton atau sekitar 20 persen dari total kebutuhan. Artinya, sebanyak 80 persen pasokan susu di pasaran masih harus dipenuhi melalui jalur impor.
Merespons tingginya angka ketergantungan tersebut, pemerintah mengambil langkah percepatan investasi hulu ke hilir. Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan komitmen pemerintah untuk membenahi tata niaga dan produksi sektor ini secara komprehensif.
"Pemerintah mendorong penguatan ekosistem persusuan nasional melalui pembangunan sistem yang terintegrasi dari hulu, tengah, hingga hilir agar mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri," ungkap Hanif.
Baca Juga: Organda Jatim Pastikan Tarif Bus AKDP Belum Naik Meski BBM dan Sparepart Melonjak
Upaya pencapaian swasembada ini diiringi dengan sejumlah relaksasi kebijakan yang ramah investor. Sejak 2025, keran impor sapi hidup telah dibuka tanpa batas kuota guna mendongkrak populasi sapi perah nasional yang saat ini baru mencatatkan angka 546 ribu ekor.
Pemerintah juga menjanjikan kemudahan perizinan serta insentif khusus bagi investor luar negeri.
Langkah inovasi genetik juga tengah dijajaki melalui potensi impor sapi perah tropis dari Brasil. Sapi jenis ini dinilai memiliki tingkat adaptasi yang lebih baik terhadap iklim Indonesia dibandingkan sapi perah konvensional.
Baca Juga: Hampir 500 Ribu UMKM dan Ribuan Perusahaan di Surabaya Jadi Target Sensus Ekonomi 2026
Pengembangan ekosistem sapi perah saat ini terus diperkuat di sentra-sentra produksi beriklim sejuk seperti Lembang, Boyolali, Baturaden, Pasuruan, dan Blitar.
Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2026, Jawa Timur mendominasi sebagai produsen utama dengan 475 ribu ton, disusul Jawa Barat sebesar 252 ribu ton, dan Jawa Tengah sebesar 75 ribu ton.
Untuk memaksimalkan penyerapan pasar dan nilai tambah, pemerintah turut mendorong koperasi peternak untuk berekspansi ke tahap pengolahan (hilirisasi).
Baca Juga: Harga Minyakita Tetap Rp15.700 per Liter, Pemerintah Batal Naikkan HET
Melalui integrasi rantai pasok ini, kapasitas produksi dalam negeri diharapkan meningkat drastis sekaligus memberikan kepastian bisnis bagi para peternak lokal.
Editor : Hany Akasah