RADAR SURABAYA BISNIS – Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) membidik target ambisius untuk mencapai swasembada bawang putih nasional dalam kurun waktu tiga tahun.
Langkah ini diambil guna meredam ketergantungan impor yang selama ini mendominasi, sekaligus membuka kepastian bisnis yang lebih menjanjikan bagi para petani lokal.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pendekatan yang dilakukan kali ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Baca Juga: Sensus Ekonomi 2026 Resmi Dimulai, BPS Bakal Datangi Usaha Rumahan hingga Influencer
Pemerintah tengah membangun ekosistem bisnis pertanian yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, mulai dari penyediaan benih, sarana produksi, hingga jaminan pasar hasil panen.
Dari sisi tata niaga, pemerintah menggandeng BUMN Pangan, yakni ID Food dan Perum Bulog, sebagai offtaker (penyerap hasil panen).
Untuk memitigasi risiko kerugian bisnis di tingkat petani, Kementan juga menyiapkan skema Harga Pembelian Pemerintah (HPP) serta Harga Eceran Tertinggi (HET) yang jelas.
Baca Juga: Satgas Pangan Mentan Buru 130 Perusahaan Sawit Nakal, Keluhan Petani Mencuat
"Bapak Presiden (Prabowo Subianto) ingin swasembada. Karena itu ekosistemnya kita bangun dari benih sampai konsumsi. Dulu pendekatannya parsial sehingga tidak jalan.
Sekarang kita kawal bersama, tiga tahun insyaallah bisa swasembada, dan impor kita tekan kerannya," tegas Amran usai pertemuan dengan para pemangku kepentingan di Kantor Kementan, Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Amran menjelaskan, rantai pasok akan diatur secara ketat. Benih yang dihasilkan oleh penangkar swasta maupun PTPN III akan diserap oleh ID Food dan Bulog, untuk kemudian didistribusikan kembali guna memperluas area tanam.
Baca Juga: 58 Merek Motor Listrik Beredar di Indonesia, Standar Keselamatan Belum Ada
Selain itu, pemerintah juga memberikan dukungan mekanisasi berupa peminjaman alat mesin pertanian (alsintan) seperti kultivator yang dikelola bergilir antarkelompok tani.
Kepastian penyerapan hasil panen dan stabilitas harga ini disambut positif oleh para pelaku usaha tani. Bedjo Supriyanto, petani bawang putih asal Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, menilai kebijakan ini sebagai angin segar bagi iklim usaha pertanian yang sudah lama lesu akibat gempuran produk impor.
"Alhamdulillah, ini menjadi momentum yang sangat ditunggu. Selama lebih dari 20 tahun kami bertani, baru sekarang bawang putih mendapat panggung dan dukungan dari hulu sampai hilir. Petani akan lebih semangat meningkatkan produksi," ungkap Bedjo.
Baca Juga: Harga Batu Bara Meroket, Pemerintah Akan Naikkan Kuota Produksi di Atas 600 Juta Ton
Dengan terbangunnya sinergi yang solid antara petani sebagai produsen, pemerintah sebagai regulator, dan BUMN sebagai stabilisator pasar, ekosistem bisnis bawang putih dalam negeri diproyeksikan akan semakin kuat.
Ke depan, Indonesia diharapkan mampu berdiri di kaki sendiri dalam memenuhi kebutuhan komoditas bumbu dapur strategis ini.
Editor : Hany Akasah