RADAR SURABAYA BISNIS – Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi, seperti Pertamax, akan langsung mengalami penyesuaian turun apabila tren harga minyak mentah dunia merosot.
Di saat yang sama, langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional terus dipacu melalui diversifikasi pasokan impor minyak mentah.
Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menjelaskan bahwa mekanisme penetapan harga BBM non-subsidi, baik yang dijual oleh Pertamina maupun badan usaha swasta, akan patuh pada fluktuasi harga keekonomian pasar global.
Baca Juga: DPR Restui Pagu Indikatif Kemenkeu 2027 Rp49,8 Triliun, Sektor Ini Dapat Porsi Terbesar
"Ketika harga minyak dunia turun, sudah dipastikan harga BBM non-subsidi akan turun," ujar Dwi dalam keterangannya di Gedung Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Ia menambahkan bahwa skema sebaliknya juga berlaku. Apabila harga minyak dunia melonjak, maka harga BBM non-subsidi mau tidak mau harus menyesuaikan dengan harga keekonomiannya yang baru.
Pemerintah sebelumnya sempat menahan laju penyesuaian harga BBM non-subsidi pada bulan April lalu sesuai dengan arahan Presiden untuk menjaga daya beli masyarakat serta stabilitas ekonomi nasional.
Baca Juga: Harga Bahan Pokok di Jawa Timur Merangkak Naik, Beras hingga Minyak Goreng Alami Lonjakan
Namun, seiring berjalannya waktu dan fluktuasi pasar global yang dinamis, pelaku usaha akhirnya melakukan penyesuaian harga.
Di sisi lain, pemerintah memastikan perlindungan bagi masyarakat berpenghasilan rendah tetap menjadi prioritas. Harga BBM subsidi, seperti Pertalite dan Solar, dipastikan tidak akan mengalami kenaikan demi melindungi daya beli "wong cilik".
Guna mengamankan pasokan di tengah dinamika geopolitik yang memanas di Timur Tengah, Dwi memastikan rencana impor minyak dari Rusia tetap diproses dan berjalan.
Langkah taktis ini diperkuat dengan Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 2026 yang diterbitkan oleh Presiden Prabowo Subianto. Regulasi tersebut mengatur tentang pengadaan BBM serta memberikan kewenangan bagi badan usaha dan Lemigas untuk mengeksekusi impor guna memperkokoh ketahanan energi nasional.
Selain membidik Rusia, pemerintah secara aktif berburu sumber pasokan minyak dari negara-negara di luar kawasan Timur Tengah.
"Diversifikasi impor sudah dilakukan. Kita ambil juga dari Afrika seperti Nigeria dan Angola, serta dari Amerika," tegasnya. Pihak Kementerian ESDM menyatakan akan terus memantau pergerakan harga minyak global secara berkala guna menyesuaikan kebijakan energi di dalam negeri.
Editor : Hany Akasah