RADAR SURABAYA BISNIS – Keikutsertaan Indonesia dalam Pertemuan Menteri Pertanian BRICS (BRICS Agriculture Ministers' Meeting) 2026 di Indore, India, membuka peluang bisnis dan investasi bernilai strategis bagi sektor agribisnis di tanah air.
Pertemuan yang berlangsung pada 12-13 Juni 2026 ini tidak hanya menegaskan komitmen pada ketahanan pangan, melainkan juga membuahkan berbagai prospek pembiayaan dari lembaga internasional hingga perluasan akses pasar ekspor.
Mewakili Menteri Pertanian RI, Plt. Direktur Jenderal Perkebunan, Ali Jamil, menegaskan bahwa platform BRICS adalah ruang krusial untuk memperkuat ketahanan sistem pangan nasional secara inklusif.
Baca Juga: Menkes Jamin Harga Obat BPJS Tak Naik di Tengah Fluktuasi Rupiah, Non BPJS Maksimal Naik 20 Persen
Di hadapan para delegasi, Indonesia mendorong penguatan sinergi pada sistem perbenihan, sarana produksi, dan pertanian digital.
Dari perspektif bisnis dan ekonomi makro, hasil deklarasi pertemuan ini memberikan angin segar bagi rantai pasok agribisnis nasional.
Terdapat potensi pemanfaatan skema pembiayaan pembangunan secara global, salah satunya melalui New Development Bank (NDB).
Akses pendanaan ini dapat menjadi katalis dalam mendukung investasi pertanian yang berkelanjutan dan modernisasi fasilitas prapanen hingga pascapanen di Indonesia.
Tidak hanya peluang investasi, manuver delegasi Indonesia juga terlihat pada pertemuan bilateral dengan India dan Afrika Selatan.
Bersama India, Indonesia secara khusus membahas potensi kerja sama strategis terkait penyediaan benih gandum dan bawang putih, hingga penjajakan hilirisasi komoditas gambir guna mendongkrak nilai tambah yang menguntungkan petani lokal secara langsung.
Sementara itu, bersama Afrika Selatan, Indonesia fokus mematangkan Nota Kesepahaman (MoU) terkait kemudahan akses pasar dan pemenuhan standar mutu yang siap melebarkan sayap komoditas nasional ke benua Afrika.
Langkah ini sejalan dengan arah kebijakan strategis Kementan di bawah arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, di mana modernisasi dan penerapan teknologi (termasuk AI dan sistem satelit) menjadi kunci dalam memangkas biaya produksi, meningkatkan nilai tambah, serta mendongkrak kesejahteraan ekonomi petani secara riil.
Terbukanya pintu kerja sama standar sanitari dan fitosanitari (SPS) dengan negara-negara BRICS diproyeksikan akan mengerek daya saing produk pertanian Indonesia, mempercepat swasembada, dan membuka kran devisa baru dari sektor non-migas di pasar internasional.
Baca Juga: Minyak dan Ikan Segar Naik Bersamaan, Varian Curah serta Tongkol Bikin Ibu Rumah Tangga Putar Otak
Editor : Hany Akasah