Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Ketergantungan Impor Susu 80 Persen, Tantangan Rantai Pasok dan Peluang Pasar Peternak Lokal

Hany Akasah • Senin, 8 Juni 2026 | 21:08 WIB
Pemerintah Carikan solusi atas disparitas harga rantai pasok dan ketergantungan impor susu nasional yang mencapai 80 persen.
Pemerintah Carikan solusi atas disparitas harga rantai pasok dan ketergantungan impor susu nasional yang mencapai 80 persen.

RADAR SURABAYA BISNIS – Sektor industri susu nasional saat ini masih menghadapi tantangan besar dari sisi tata niaga dan rantai pasok, namun sekaligus membuka ceruk peluang pasar yang masif bagi peternak lokal. 

Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Pangan, Hanif Faisol, mengungkapkan bahwa 80 persen pemenuhan kebutuhan susu di Indonesia masih mengandalkan keran impor.

Fakta tersebut menjadi perhatian serius pemerintah mengingat tingkat serapan produksi lokal yang masih tertinggal jauh dari permintaan.

Baca Juga: Razia Pajak Kendaraan Digelar di Surabaya hingga Akhir 2026, Bayar di Tempat Pakai QRIS

"Kita pahami betul, bahwa produksi nasional kita masih jauh dari kebutuhan nasional. Gap yang cukup besar ini tentu harus segera dirumuskan oleh semua kementerian terkait," ujar Hanif saat meninjau langsung operasional peternakan sapi perah di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat, Minggu (7/6/2026).

Potensi perluasan pasar domestik sebenarnya masih sangat terbuka. Berdasarkan standar Food and Agriculture Organization (FAO), konsumsi susu ideal berada di angka 30 kilogram per kapita per tahun.

Namun, laju konsumsi masyarakat Indonesia saat ini baru mencapai 16,2 hingga 16,8 kilogram per kapita. Pemenuhan selisih target konsumsi ini menjadi peluang bisnis nyata bagi industri pengolahan dan peternak lokal ke depannya.

Baca Juga: Danantara Jadi Pengawas Tunggal Ekspor Sawit dan Batu Bara, Awasi Manipulasi Transaksi

Meski demikian, margin keuntungan di tingkat akar rumput masih terhambat oleh masalah struktural. Hanif mencatat sejumlah keluhan operasional dari para peternak yang menghambat efisiensi bisnis mereka.

"Mulai dari kurangnya ketersediaan lahan, kemudian kurangnya ketersediaan tumbuhan tanaman, ketersediaan pakan. Kemudian adanya disparitas antara harga di petani dengan di koperasi, antara di koperasi dengan pabrik, yang selanjutnya tentu temuan ini menjadi komitmen kita semua," urainya.

Sebagai langkah intervensi ekonomi dan kebijakan, Wamenko Pangan segera menggelar rapat koordinasi lintas sektoral. 

Baca Juga: Khofifah Gelar Pasar Murah di Surabaya, Beras Rp11 Ribu dan Minyak Goreng Rp13 Ribu Diserbu Warga

Pertemuan ini akan melibatkan pejabat eselon 1, akademisi, hingga tokoh masyarakat untuk merekonstruksi tata niaga industri susu. Salah satu fokus utamanya adalah merevitalisasi potensi ekonomi daerah dengan mendorong kembali kawasan Puncak, Cisarua, Bogor, sebagai sentra produksi susu nasional unggulan.

Editor : Hany Akasah
#wamenko pangan #Hanif Faisol Nurofiq #susu #sapi #impor