Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Ketegangan Timur Tengah Mereda, Harga Minyak Mentah RI (ICP) Turun Drastis ke USD106,56

Hany Akasah • Senin, 8 Juni 2026 | 11:41 WIB
ILUSTRASI: Kilang minyak
ILUSTRASI: Kilang minyak

RADAR SURABAYA BISNIS – Harga rata-rata minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) pada Mei 2026 mencatatkan penurunan yang signifikan. 

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi menetapkan ICP bulan Mei di angka USD106,56 per barel, turun sebesar USD10,75 dari posisi April 2026 yang sempat menembus USD117,31 per barel.

Penurunan ini memberikan sentimen positif bagi stabilitas pasar energi domestik. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menjelaskan bahwa anjloknya harga ICP sejalan dengan tren pelemahan harga minyak mentah utama dunia, khususnya jenis Dated Brent.

Baca Juga: Daftar 5 Biji Kopi Paling Dicari di Dunia Tahun 2026, Dua Jagoan Asal Indonesia Tampil Membanggakan

"Perkembangan positif ini secara umum dipengaruhi oleh perbaikan pasokan global seiring meredanya konflik geopolitik global," ungkap Laode di Jakarta, Jumat (5/6/2026).

Sepanjang Mei 2026, pasar minyak global merespons dengan cepat sinyal deeskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah. 

Pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang membuka peluang berakhirnya konflik dan kemajuan negosiasi dengan Iran, serta pengecualian sanksi sementara untuk minyak Rusia, sukses menekan kekhawatiran pasar akan ancaman disrupsi pasokan minyak internasional.

Baca Juga: Harga Emas Antam Menguat Tipis ke Rp2.743.000 per Gram, Tren Awal Juni Masih Terkoreksi

Dari sisi fundamental, faktor penekan harga tidak hanya datang dari redanya konflik geopolitik, melainkan juga proyeksi melemahnya permintaan minyak dunia. 

Berdasarkan laporan International Energy Agency (IEA), permintaan minyak dunia diperkirakan turun hingga 420 ribu barel per hari, menjadi sekitar 104 juta barel per hari. Penurunan permintaan terbesar diproyeksikan terjadi pada Triwulan II 2026.

Lesunya gairah pasar juga tergambar jelas di kawasan Asia. Sepanjang Februari hingga April 2026, negara-negara konsumen utama seperti Cina, Jepang, Korea Selatan, dan India mencatatkan penurunan impor secara signifikan. 

Baca Juga: Bawang Putih dan Cabai Rawit di Jatim Naik Lagi, Cek Harga Hari Ini yang Makin Pedas Sebelum ke Pasar

Di Cina, aktivitas pengolahan minyak mentah bahkan merosot 5,8% secara tahunan ke level terendahnya dalam 44 bulan terakhir.

Menyikapi volatilitas dan dinamika pasar ini, pemerintah terus melakukan langkah antisipatif. Laode menegaskan, pemantauan berkelanjutan terhadap faktor-faktor pembentuk harga energi terus dilakukan guna menjaga ketahanan energi nasional.

"Pemerintah berkomitmen menjaga ketahanan energi nasional dan memastikan ketersediaan pasokan energi bagi masyarakat tetap aman," pungkasnya.

Baca Juga: Rupiah Terkapar di Level Rp 18.080, Sektor Industri Dibayangi Lonjakan Biaya Impor

Sebagai rincian, berikut adalah perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama dunia pada Mei 2026 dibandingkan April 2026:

- ICP: Turun USD10,75 menjadi USD106,56 per barel.

- Dated Brent: Turun USD12,99 menjadi USD107,55 per barel.

- Harga Brent (ICE): Naik tipis USD1,25 menjadi USD103,71 per barel.

- WTI (Nymex): Naik tipis USD0,45 menjadi USD98,51 per barel.

- Basket OPEC: Naik USD3,45 menjadi USD112,24 per barel (per 29 Mei 2026).

Baca Juga: Jawa Timur Bidik Posisi Pusat Industri Mebel dan Kerajinan Terbesar di ASEAN

Editor : Hany Akasah
#harga #icp #geopolitik #minyak #esdm