radarsurabayabisnis.id - Produksi kopi Jawa Timur diproyeksikan mencapai 78.800 ton sepanjang tahun 2025. Angka tersebut menempatkan provinsi ini sebagai salah satu sentra kopi terbesar di Indonesia. Namun di balik tingginya produksi, konsumsi kopi masyarakat Jawa Timur masih relatif rendah sehingga memicu surplus hingga 44.800 ton.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Perkebunan Jawa Timur, Heru Suseno, mengungkapkan bahwa konsumsi kopi di wilayahnya saat ini baru mencapai sekitar 34.000 ton per tahun atau hanya sekitar 50 persen dari total produksi.
Baca Juga: Cuan dari Ampas Kopi, Inovasi BRIN Buka Peluang Emas untuk Industri Kosmetik dan Pangan
"Konsumsi Jawa Timur masih 50 persen, sekitar 34.000 ton. Data ini masih harus dicek, tetapi secara umum kita surplus besar," kata Heru, Rabu (3/6).
Besarnya surplus tersebut menunjukkan potensi besar sektor kopi Jawa Timur untuk memperluas pasar, baik di tingkat nasional maupun internasional. Meski demikian, distribusi kopi antardaerah tidak dapat dilakukan secara sederhana karena setiap wilayah memiliki karakteristik dan cita rasa yang berbeda.
Menurut Heru, faktor agroklimat membuat kopi dari masing-masing daerah memiliki keunggulan tersendiri. Karena itu, perdagangan kopi antarprovinsi lebih banyak dilakukan dalam bentuk pertukaran varietas daripada sekadar pengiriman produk untuk memenuhi kebutuhan pasar.
"Kopi tidak bisa hanya pola kirim dari Jawa Timur ke Sulawesi atau Sumatra. Kami bertukar karena varietas dari masing-masing wilayah sangat berbeda," jelasnya.
Baca Juga: Industri Kopi Indonesia Kian Melejit, Kemenperin Genjot Sertifikasi Roasting untuk IKM
Berdasarkan volume produksi, Jawa Timur saat ini menempati posisi keempat sebagai penghasil kopi terbesar di Indonesia setelah Sumatera Selatan, Lampung, dan Sumatera Utara. Posisi tersebut dinilai sangat strategis dalam mendukung perkembangan industri kopi nasional.
Tak hanya unggul dari sisi kuantitas, Jawa Timur juga memiliki sejumlah kopi premium yang telah dikenal luas. Kopi arabika dari kawasan Pegunungan Ijen, Raung, dan Argopuro memiliki reputasi hingga pasar internasional berkat karakter rasa dan aroma yang khas.
Sementara itu, kopi robusta Dampit dari Kabupaten Malang menjadi salah satu ikon kopi Jawa Timur yang sudah lama mendapat pengakuan di pasar nasional maupun ekspor.
"Jawa Timur dikenal karena arabika di Ijen, Raung, dan Argopuro. Kalau robusta, pasti dikenal Dampit. Dampit itu luar biasa namanya," ujar Heru.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus mendorong penguatan sektor perkebunan kopi melalui peningkatan kualitas budidaya, perbaikan pengolahan pascapanen, serta perluasan akses pasar. Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah produk kopi lokal sekaligus memanfaatkan surplus produksi secara optimal.
Dengan produksi yang terus meningkat dan dukungan berbagai kopi unggulan berkelas dunia, Jawa Timur berpeluang memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat industri kopi nasional sekaligus pemain penting di pasar kopi global.
Editor : Hany Akasah