RADAR SURABAYA BISNIS – Tren Do It Yourself (DIY) di kalangan Generasi Z kini telah berevolusi. Apa yang awalnya sekadar hobi pengisi waktu luang atau bentuk ekspresi diri, kini bertransformasi menjadi pergeseran budaya yang melahirkan peluang bisnis menjanjikan dalam ekosistem ekonomi kreator (creator economy).
Perubahan pola pikir generasi muda terhadap konsumsi fesyen menjadi pendorong utama fenomena ini. Kesadaran yang semakin tinggi terhadap dampak lingkungan dari fast fashion membuat Gen Z mulai mengadopsi pendekatan slow fashion.
Mereka lebih memilih mendaur ulang (upcycling) pakaian lama seperti melukis sepatu kets, menambahkan sulaman pada kemeja bekas, atau mengubah celana jeans lama dibandingkan membeli produk baru secara terus-menerus.
Baca Juga: Insentif Kendaraan Listrik Ditunda, Momentum Evaluasi Alokasi Subsidi untuk Keadilan Ekonomi Daerah
Menariknya, dorongan untuk berekspresi ini secara alami membuka jalan menuju kewirausahaan. Banyak kreator muda yang menyadari bahwa keterampilan tangan mereka memiliki nilai jual tinggi.
Konsumen modern saat ini semakin menghargai produk-produk kustomisasi yang memiliki nilai personal, keaslian (orisinalitas), dan cerita di baliknya, sesuatu yang tidak bisa ditawarkan oleh barang-barang produksi massal dari pabrik.
Berkat bantuan media sosial dan platform e-commerce seperti Etsy, proyek kreatif yang bermula di kamar tidur kini dapat menjangkau pasar global dengan cepat.
Tutorial pembuatan produk atau konten proses di balik layar (behind the scenes) yang dibagikan secara daring sering kali memicu daya tarik audiens, mengubah penonton menjadi pelanggan setia.
Barang-barang buatan tangan seperti perhiasan, pakaian kustom, tas rajut, hingga aksesori personal kini mendominasi minat pembeli online.
Bagi Generasi Z, budaya DIY kini bukan lagi sekadar tren sesaat, melainkan sebuah gerakan ekonomi baru yang membuktikan bahwa bisnis yang sukses bisa dimulai hanya dari sebuah ide kreatif dan kemauan untuk mendaur ulang apa yang sudah ada.
Baca Juga: Rupiah Loyo ke Rp17.845 pada Awal Juni, Ini Dampaknya ke Pasar Domestik
Editor : Hany Akasah