Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Imbas Konflik Global: Harga Kakao RI Melonjak Tajam, Kerek Harga Patokan Ekspor Hingga 17 Persen

Hany Akasah • Sabtu, 30 Mei 2026 | 19:56 WIB
CERUK: Harga referensi (HR) biji kakao periode Februari 2025 ditetapkan 11.102,84 dolar Amerika Serikat (USD) per metrik ton (MT).
CERUK: Kementerian Perdagangan mencatat lonjakan harga referensi biji kakao Indonesia hingga 17,24% pada Juni 2026.
 

RADAR SURABAYA BISNIS – Dinamika geopolitik global kembali memberikan guncangan signifikan pada arus perdagangan internasional. 

Penutupan Selat Hormuz secara langsung berdampak pada meroketnya harga referensi (HR) komoditas biji kakao asal Indonesia.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) resmi mencatat lonjakan HR biji kakao sebesar 17,24 persen, menyentuh angka US$3.832,17 per metrik ton (MT) untuk penetapan periode Juni 2026.

Baca Juga: Jangan Sampai Boncos, Ini 6 Trik Jitu Menabung ala Jepang yang Patut Ditiru

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Tommy Andana, menjelaskan bahwa lonjakan harga ini merupakan imbas langsung dari terganggunya rantai pasok global.

"Ada kenaikan pada HR dan HPE biji kakao karena ditutupnya Selat Hormuz yang mengakibatkan peningkatan biaya logistik, biaya asuransi, dan bahan bakar. Selain itu, penurunan suplai dari Nigeria ikut mendorong kenaikan tersebut," ungkap Tommy dalam keterangan resminya, dikutip Sabtu (30/5/2026).

Kondisi ini turut mengerek Harga Patokan Ekspor (HPE) biji kakao menjadi US3.511 per MT, melesat 18,53 persen atau naik US549 dari periode sebelumnya. 

Baca Juga: Tekan Beban Subsidi BBM Rp300 Triliun, Kemenhub Genjot Transportasi Massal untuk Dorong Ekonomi Perkotaan

Meski harga di pasar global melambung, Kemendag memutuskan untuk menahan tarif Bea Keluar (BK) dan Pungutan Ekspor (PE) biji kakao masing-masing di angka 7,5 persen untuk Juni 2026.

Ironisnya, tren positif pada sektor kakao tidak diikuti oleh komoditas andalan Indonesia lainnya, yakni minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO). HR CPO untuk periode Juni 2026 justru terkoreksi turun 1,91 persen ke level US$1.029,51 per MT.

Pelemahan permintaan dari negara-negara importir utama, khususnya India, menjadi biang keladi turunnya harga CPO bulan ini. Menyikapi penetapan tersebut, pemerintah mengenakan Bea Keluar CPO sebesar US148 per MT dan Pungutan Ekspor sebesar US128,69 per MT selama Juni 2026.

Baca Juga: Pangkas Inefisiensi Rp170 Triliun, Wamenkeu Buktikan Ketahanan Fiskal Era Presiden Prabowo

Sebagai informasi tambahan, Kemendag juga mencatat pergerakan positif pada komoditas getah pinus yang mengalami kenaikan HPE sebesar 6,99 persen menjadi US$980 per MT. Sementara itu, produk kulit tercatat stabil tanpa perubahan harga.

Editor : Hany Akasah
#harga #ekspor #selat hormuz #kakao #kemendag