Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Harga TBS Sawit di Sumbar Ambles Hingga Rp 700 per Kg, Dinas Pertanian Bantah Dipicu Kelangkaan Solar

Hany Akasah • Jumat, 29 Mei 2026 | 11:36 WIB
ILUSTRASI: Petani sawit yang mulai merasakan dampak penurunan harga TBS dalam beberapa hari terakhir. (Foto: Pexels)
ILUSTRASI: Petani sawit yang mulai merasakan dampak penurunan harga TBS dalam beberapa hari terakhir. (Foto: Pexels)

RADAR SURABAYA BISNIS - Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, mengalami penurunan tajam dalam beberapa hari terakhir.

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran para petani, terutama karena penurunan harga terjadi saat biaya produksi dan kebutuhan hidup masyarakat masih cukup tinggi.

Jika sebelumnya harga TBS sawit masih berada di kisaran Rp 2.000 per kilogram, kini harga komoditas tersebut dilaporkan turun drastis hingga sekitar Rp 700 per kilogram sejak Senin (25/5/2026).

Anjloknya harga sawit membuat banyak petani swadaya mengaku terpukul.

Baca Juga: Kanada Permudah Akses Masuk WNI, Kini Bisa Gunakan eTA Pengganti Visa

Pasalnya, hasil penjualan sawit menjadi salah satu sumber penghasilan utama masyarakat di sejumlah daerah perkebunan.

Di tengah kondisi tersebut, sejumlah pengepul atau toke sempat menyebut gangguan distribusi akibat sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar sebagai penyebab terganggunya pengangkutan hasil panen sawit.

Hambatan distribusi itu disebut berdampak pada turunnya harga pembelian di tingkat petani.

Namun, Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan melalui Dinas Pertanian memberikan penjelasan berbeda terkait situasi tersebut.

Baca Juga: Harga Sembako Surabaya, Gresik, Sidoarjo Jumat 29 Mei 2026, Daging SerentakTurun

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Pesisir Selatan, Yul Afrizal, mengatakan penurunan harga sawit saat ini tidak hanya terjadi di wilayah Pesisir Selatan, tetapi juga dirasakan di berbagai daerah penghasil sawit lainnya di Indonesia.

Ia juga membantah kabar yang menyebut kelangkaan solar menjadi faktor utama penyebab anjloknya harga sawit.

"Tidak ada pengaruhnya dengan solar. Ini murni karena kebijakan tata kelola sawit yang baru," kata Yul saat dikonfirmasi.

Menurutnya, pemerintah pusat saat ini tengah menyiapkan sistem baru terkait pengelolaan ekspor dan impor crude palm oil (CPO).

Nantinya, tata kelola tersebut direncanakan akan dilakukan secara terpusat melalui Badan Pengelola Investasi Danantara.

Sebelumnya, perusahaan kelapa sawit dapat melakukan ekspor secara mandiri melalui berbagai jalur perdagangan.

Baca Juga: Rupiah Diproyeksi Mendekati Rp 18.000 per Dolar AS di Tengah Memanasnya Konflik Timur Tengah

Namun ke depan, mekanisme tersebut akan diatur lebih terpusat sebagai bagian dari kebijakan baru pemerintah.

Yul menjelaskan bahwa gejolak harga yang terjadi saat ini merupakan bentuk penyesuaian pasar terhadap perubahan regulasi tersebut.

Meski demikian, berdasarkan hasil koordinasi dengan asosiasi petani, kondisi ini diperkirakan hanya bersifat sementara.

Pemerintah daerah berharap situasi harga sawit dapat kembali stabil dalam waktu dekat agar aktivitas ekonomi petani dan sektor perkebunan tidak semakin terdampak. (iza/han)

Editor : Hany Akasah
#TBS #petani #cpo #sumbar #sawi hijau