RADAR SURABAYA BISNIS – Transformasi ekonomi digital di Indonesia tidak hanya mengubah cara masyarakat berbelanja atau memesan tiket perjalanan, tetapi juga merambah ke sektor keagamaan.
Pada momen Hari Raya Idul Adha, tren kurban instan melalui platform digital kini tumbuh menjadi lahan bisnis baru yang menjanjikan kepraktisan bagi masyarakat urban.
Jika dulu proses berkurban identik dengan kunjungan langsung ke kandang ternak, negosiasi harga, hingga menyaksikan proses penyembelihan, kini seluruh rangkaian tersebut telah dikemas dalam bentuk produk digital.
Baca Juga: Sinergi KORPRI-BTN, Siapkan KPR 30 Tahun untuk 5,2 Juta ASN Tanpa Rumah
Platform e-commerce, aplikasi perbankan, hingga lembaga filantropi berlomba menawarkan ragam paket kurban yang bisa diselesaikan hanya dalam hitungan menit.
Merespons fenomena pergeseran perilaku konsumen ini, Ekonom Senior Institute For Development of Economics and Finance (INDEF), Ahmad Afandi Mahfud, menilai bahwa digitalisasi kurban tidak bisa hanya dipandang sebagai perubahan metode pembayaran.
Dari kacamata bisnis, pola penawaran platform kurban online saat ini mulai menyerupai industri travel umrah. Penyedia jasa membagi layanan mereka ke dalam berbagai kategori paket—mulai dari jenis hewan, bobot, hingga lokasi distribusi—untuk menyasar segmen pasar yang berbeda.
Baca Juga: Zulhas Pangkas 145 Aturan Pupuk, Penyerapan Melonjak hingga 9,55 Juta Ton
"Nah, ini sama kayak umrah. Umrah itu ada paket premium, bronze, silver," ujar Ahmad dalam diskusi publik.
Meski model bisnis ini terbukti menjawab kebutuhan masyarakat akan efisiensi waktu, Ahmad mengingatkan adanya tantangan besar di baliknya.
Ada potensi di mana ibadah dipersepsikan semata sebagai komoditas komersial. "Seolah-olah ibadah itu dibuat komoditas sedemikian rupa," tambahnya.
Baca Juga: Kumpulkan Keluhan Penjual di Marketplace, Pemerintah Siapkan Revisi Permendag
Di sisi lain, dari perspektif jangkauan pasar, inovasi digital ini menawarkan solusi tak tertandingi.
Platform kurban online memungkinkan penyaluran daging tidak hanya terpusat di kota-kota besar yang mengalami surplus, tetapi juga mendistribusikannya ke pelosok daerah tertinggal, bahkan ke wilayah konflik seperti Gaza, Palestina.
Teknologi membuka akses distribusi lintas geografis yang nyaris mustahil dilakukan secara konvensional oleh individu.
Baca Juga: Petani Garam Madura Minta Sistem Satu Pintu untuk Garam Nasional, DPR RI Ikut Bersuara
Namun, efisiensi bisnis ini membawa dampak pada dimensi sosial (muamalah). Praktik gotong royong warga—mulai dari memotong, menimbang, hingga membagikan daging secara langsung—perlahan tergantikan oleh notifikasi keberhasilan transfer dan laporan foto via aplikasi.
Pada akhirnya, bagi para pelaku industri digital maupun lembaga penyalur, tantangan terbesarnya bukan lagi sekadar bersaing memperebutkan market share.
Lebih dari itu, penyedia layanan dituntut mampu menghadirkan pengalaman digital yang tetap menjaga nilai-nilai esensial, transparansi, serta makna pengorbanan dari ibadah kurban itu sendiri.
Baca Juga: Laba BRI Naik 5,91 Persen di 2026, Penyaluran Kredit Tembus Rp1.376 Triliun
Editor : Hany Akasah