Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Cuan dari Ampas Kopi, Inovasi BRIN Buka Peluang Emas untuk Industri Kosmetik dan Pangan

Hany Akasah • Selasa, 26 Mei 2026 | 08:47 WIB
ILUSTRASI AMPAS KOPI: Peneliti BRIN berhasil menemukan metode ekstraksi hijau untuk mengubah limbah ampas kopi menjadi minyak berkualitas tinggi yang bernilai ekonomi besar untuk industri.
ILUSTRASI AMPAS KOPI: Peneliti BRIN berhasil menemukan metode ekstraksi hijau untuk mengubah limbah ampas kopi menjadi minyak berkualitas tinggi yang bernilai ekonomi besar untuk industri.

RADAR SURABAYA BISNIS - Industri kopi di Indonesia tidak hanya menghasilkan minuman favorit yang dikonsumsi jutaan orang setiap hari, tetapi juga menyisakan limbah ampas kopi dalam jumlah masif. 

Siapa sangka, limbah yang kerap dipandang sebelah mata ini ternyata menyimpan potensi bisnis dan nilai ekonomi yang sangat tinggi.

Peneliti dari Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Fawzan Sigma Aurum, berhasil mengembangkan inovasi pengolahan limbah ampas kopi menjadi minyak berkualitas tinggi.

Baca Juga: Kemarau Tapi Masih Hujan, BMKG Peringatkan Waspada Cuaca Ekstrem

Penemuan ini membuka peluang bisnis baru, khususnya sebagai bahan baku potensial untuk industri kosmetik berkelanjutan, bahan tambahan pangan, hingga nutraceutical ingredients (produk kesehatan berbasis makanan).

Dalam keterangannya di Jakarta, Fawzan menjelaskan bahwa riset ini menggunakan pendekatan foodomics modern yang menggabungkan teknologi metabolomics dan lipidomics canggih. 

Untuk mendapatkan minyak dengan kualitas komersial terbaik, tim peneliti menerapkan teknik ekstraksi hijau (ramah lingkungan).

Baca Juga: Bukan Sekadar Wadah Bawaan, Koper Kini Jadi Simbol Status Gaya Hidup ala Gen Z

Hasilnya, metode ultrasound-assisted extraction (UAE) menggunakan pelarut etanol terbukti menjadi yang paling efisien.

"Metode UAE dinilai mampu menghasilkan rendemen tinggi dengan komposisi kimia bioaktif terbaik," jelas laporan tersebut. Selain UAE, metode supercritical CO2 dengan tambahan solven etanol juga efektif mempertahankan senyawa bioaktif dalam minyak.

Minyak yang dihasilkan dari metode ini memiliki tingkat oksidasi lipida yang rendah, sehingga menjanjikan masa simpan dan kualitas yang sangat baik bagi pelaku industri.

Baca Juga: Lindungi Hak Petani, Mentan Amran Pertegas Aturan Distribusi Pupuk dan Beras

Dari kacamata bisnis, kualitas bahan baku adalah kunci. Riset BRIN ini juga membandingkan teknologi modern mereka dengan metode tradisional Soxhlet.

Meskipun metode tradisional mampu menghasilkan volume (rendemen) yang tinggi, proses pemanasan yang lama ternyata memicu tingkat oksidasi yang besar. Hal ini berdampak pada menurunnya kualitas minyak kopi yang dihasilkan.

Sebaliknya, metode modern BRIN berhasil mempertahankan senyawa-senyawa bernilai tinggi seperti caffeoylquinic acids (CQAs), caffeic acid, feruloylquinic acid, dan glutamic acid. Senyawa ini menjadi indikator penting tingginya kualitas minyak, yang sangat dicari oleh perusahaan kosmetik dan farmasi global.

Baca Juga: PT DSI Disiapkan Jadi Pengendali Ekspor SDA Strategis, Alasan Kebocoran Jadi Fokus Prabowo

Inovasi ini tidak hanya menjadi terobosan sains, tetapi juga angin segar bagi ekonomi sirkular di Indonesia. Fawzan berharap riset ini dapat mendorong para pelaku usaha dan industri untuk mulai memanfaatkan limbah kopi sebagai bahan baku bernilai tambah tinggi.

Ke depannya, riset ini membuka peluang kolaborasi yang luas antara lembaga penelitian dan sektor swasta (B2B) dalam bidang kimia pangan analitik dan pengembangan produk inovatif berbahan dasar sisa konsumsi kopi. Limbah yang dulunya menjadi beban lingkungan, kini siap menjadi sumber pendapatan baru yang menjanjikan.

Baca Juga: Revisi Aturan PMSE Dikebut, Kemendag Ajak Platform E-Commerce Cari Kesepakatan

Editor : Hany Akasah
#ampas #BRIN #kopi #kosmetik #minyak