radarsurabayabisnis.id - PT Pertamina Hulu Energi (PHE) menegaskan komitmennya menjaga ketahanan energi nasional melalui strategi “Dual Growth Strategy”, yakni memperkuat bisnis inti minyak dan gas bumi (migas) sekaligus mempercepat pengembangan energi rendah karbon dan teknologi ramah lingkungan.
Langkah ini menjadi sorotan di tengah meningkatnya kebutuhan energi nasional dan dorongan global terhadap transisi energi berkelanjutan.
Baca Juga: Tak Hanya Akan Jadi Pusat Pemerintahan, IKN Kini Disiapkan Jadi Destinasi Wisata
Direktur Manajemen Risiko PHE, Whisnu Bahriansyah, mengatakan perusahaan terus menjaga keseimbangan antara peningkatan produksi migas dan pengembangan bisnis rendah emisi karbon agar tetap kompetitif di masa depan.
“PHE menjalankan strategi pertumbuhan yang seimbang antara penguatan bisnis inti migas dan pengembangan bisnis rendah karbon,” ujar Whisnu dalam keterangannya, Minggu (24/5).
PHE Kuasai 65 Persen Produksi Minyak Nasional
Saat ini, PHE menjadi tulang punggung sektor energi nasional dengan kontribusi sekitar 65 persen produksi minyak nasional dan 37 persen produksi gas nasional. Selain itu, perusahaan juga mengelola sekitar 27 persen blok migas di Indonesia.
Sepanjang 2025, PHE mencatat produksi minyak mencapai 556 ribu barel per hari (MBOPD) dan produksi gas sebesar 2,75 miliar standar kaki kubik per hari (BSCFD).
Capaian tersebut didukung aktivitas operasional besar-besaran melalui 887 pengeboran sumur pengembangan, 37.266 layanan sumur (well service), serta 1.288 kegiatan workover.
Baca Juga: Rupiah Menguat Tipis Seiring Pelemahan Dolar AS dan Turunnya Harga Minyak
Kinerja ini memperlihatkan agresivitas PHE dalam menjaga pasokan energi nasional di tengah tantangan global sektor migas.
Proyek CCS dan CCUS Jadi Fokus Transisi Energi
Tak hanya fokus pada produksi migas, PHE juga mempercepat pengembangan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) serta Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS).
Melalui proyek tersebut, perusahaan menargetkan kapasitas penyimpanan karbon hingga 7,3 gigaton sampai tahun 2030.
Salah satu proyek unggulan adalah CCS Asri Basin yang diproyeksikan memiliki potensi penyimpanan karbon mencapai 2,9 gigaton.
Di sisi keberlanjutan, PHE juga berhasil mempertahankan peringkat MSCI ESG “BBB”, menjalankan lebih dari 808 program CSR, serta menurunkan emisi karbon hingga 1.619.564 ton CO₂e.
Langkah ini memperkuat posisi PHE sebagai perusahaan energi yang mulai bertransformasi menuju bisnis rendah karbon.
Deretan Proyek Strategis PHE yang Jadi Sorotan
Sepanjang 2024–2025, sejumlah proyek strategis PHE berhasil direalisasikan dan dinilai menjadi penggerak utama peningkatan produksi migas nasional.
Proyek unggulan tersebut meliputi injeksi CO₂ Sukowati dengan potensi tambahan produksi 19,2 juta barel minyak, penemuan sumber daya 2C Tedong sebesar 108,05 juta BOE, serta implementasi Multi Stage Fracturing pertama pada sumur horizontal Kotabatak.
PHE juga mengembangkan North Duri A14 dengan steamflood EOR pertama, mengoperasikan Greenfield Akasia dengan produksi awal 3.200 BOPD, serta memulai produksi Lapangan Padang Pancuran I yang memiliki estimasi cadangan 1,1 juta barel minyak.
Selain itu, perusahaan mengembangkan proyek EOR Chemical di Minas, Area of Interest Sisi Nubi berkapasitas 70 MMSCFD, hingga revitalisasi brownfield melalui sumur Step Out Abab.
PHE Siapkan Eksplorasi Laut Dalam dan Teknologi AI
Memasuki 2026, PHE mulai menyiapkan sejumlah proyek strategis baru, termasuk pengembangan Blok Lavender di Laut Natuna Timur, Greenfield OO-OX ONWJ, eksplorasi laut dalam Natuna Timur, hingga pengembangan migas nonkonvensional (MNK) di Wilayah Kerja Rokan.
Tak hanya itu, perusahaan juga mulai mengadopsi teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk meningkatkan efisiensi operasi pengeboran, integrasi manajemen aset, hingga pengembangan subsurface.
Pemanfaatan AI dinilai menjadi langkah penting dalam meningkatkan efisiensi industri migas nasional di era digitalisasi energi.
“PHE akan terus berinvestasi dalam pengelolaan operasi dan bisnis hulu migas sesuai prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG),” tutup Whisnu.
Editor : Hany Akasah