RADAR SURABAYA BISNIS – Tingginya konsumsi masyarakat Indonesia terhadap produk olahan gandum seperti mie, serta makanan berbasis kedelai seperti tempe dan tahu, berbanding lurus dengan tingginya angka impor komoditas pangan.
Di tengah tren pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS), kondisi ini memicu ancaman pembengkakan biaya impor yang berpotensi membebani konsumen dalam negeri.
Berdasarkan data komoditas impor non-migas utama Indonesia tahun 2025, bahan baku pangan dan industri mendominasi daftar teratas.
Baca Juga: 18 Calon Jemaah Haji Diamankan di Bandara Juanda, Dugaan Jalur Ilegal
Untuk kelompok pangan, impor Gandum dan Meslin menduduki posisi tertinggi dengan nilai mencapai US$ 3,04 miliar. Angka ini disusul oleh impor Gula (US$ 1,9 miliar), Kakao (US$ 1,72 miliar), dan Kedelai (US$ 1,18 miliar).
Tingginya nilai impor pada komoditas seperti gandum dan kedelai menjadi ironi tersendiri, mengingat keduanya merupakan bahan baku utama dari makanan pokok masyarakat Indonesia sehari-hari.
Di luar sektor pangan, kelompok non-pangan didominasi oleh barang bernilai tinggi. Emas non-moneter memimpin dengan nilai impor US$ 4,87 miliar, diikuti oleh perangkat smartphone sebesar US$ 2,97 miliar, dan komponen semikonduktor senilai US$ 2,81 miliar.
Kenaikan biaya impor ini utamanya dipicu oleh dominasi penggunaan Dolar AS dalam transaksi perdagangan internasional. Terpuruknya nilai tukar Rupiah otomatis membuat harga beli komoditas dari luar negeri melambung tinggi.
Jika pelemahan ini terus berlanjut, lonjakan biaya produksi di tingkat industri diprediksi akan berdampak langsung pada kenaikan harga jual produk di pasar domestik, mulai dari mie instan, tempe, hingga barang-barang elektronikBaca Juga: BPH Migas Ungkap Stok Pertalite dan Pertamax, Cukup Untuk beberapa Pekan
Editor : Hany Akasah