radarsurabayabisnis.id - Harapan baru bagi pasien HIV/AIDS datang dari dunia akademik. Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Dwi Murtiastutik, mengembangkan terapi alternatif berbasis ekstrak teh hijau untuk menangani kandidiasis oral, infeksi jamur yang kerap menyerang pasien dengan daya tahan tubuh rendah.
Inovasi tersebut menggunakan senyawa Epigallocatechin Gallate (EGCG), polifenol utama yang terkandung dalam tanaman teh hijau (Camellia sinensis).
Infeksi Jamur pada Pasien HIV Jadi Ancaman Serius
Kandidiasis oral merupakan salah satu infeksi oportunistik yang paling sering dialami pasien HIV/AIDS akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh.
Baca Juga: Waspada! Ini Daftar 8 Obat yang Paling Banyak Dipalsukan Menurut BPOM di 2026
Selama ini, pengobatan masih mengandalkan antijamur konvensional seperti flukonazol. Namun, muncul tantangan baru karena banyak jamur mulai mengalami resistensi atau kebal terhadap obat.
“Meningkatnya resistensi terhadap obat antijamur mendorong kami mengembangkan terapi alternatif berbasis bahan alami,” ujar Prof. Dwi, Kamis (14/5).
Senyawa Teh Hijau Dinilai Punya Efek Ganda
Menurut Prof. Dwi, EGCG memiliki kemampuan antimikroba yang kuat untuk menghambat pertumbuhan jamur sekaligus membantu meningkatkan sistem imun tubuh.
Senyawa tersebut juga mampu merangsang respons pertahanan di lapisan lendir tubuh melalui stimulasi sel Th17.
Baca Juga: Waspada Kolesterol! Ini 3 Jenis Minuman Penjaga Jantung Tetap Sehat
Tak hanya itu, EGCG dikenal memiliki berbagai manfaat lain seperti efek antioksidan, antiinflamasi, hingga antitumor.
Efektif Lawan Jamur yang Sulit Diobati
Penelitian yang dilakukan sejak 2019 menunjukkan hasil yang cukup menjanjikan. EGCG disebut sangat efektif melawan jamur Candida non-albicans, jenis jamur yang dikenal lebih sulit diobati dibanding spesies lainnya.
Selain menghambat pertumbuhan jamur, senyawa ini juga terbukti mampu mencegah pembentukan biofilm atau lapisan pelindung jamur yang sering membuat pengobatan menjadi lebih sulit.
“EGCG terbukti secara nyata mampu menghambat pertumbuhan jamur Candida dan mencegah pembentukan biofilm secara signifikan,” jelasnya.
Berpotensi Jadi Obat Murah Buatan Indonesia
Prof. Dwi menilai inovasi ini sangat potensial dikembangkan di Indonesia karena bahan baku teh hijau mudah didapat dan tersedia melimpah.
Hal tersebut membuka peluang pengembangan terapi alternatif yang lebih murah dan mudah diakses masyarakat luas, khususnya pasien HIV/AIDS yang membutuhkan pengobatan jangka panjang.
sBaca Juga: Daftar Makanan Pemicu Kanker yang Sering Dikonsumsi, Peluang Baru bagi Produk Alternatif Sehat
Pesan Pantang Menyerah untuk Peneliti Muda
Di akhir pernyataannya, Prof. Dwi juga membagikan pesan motivasi bagi mahasiswa dan peneliti muda agar tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan penelitian.
“Kalau jatuh, bangkit lagi. Jatuh lagi, berdiri lagi. Kalau terus dilakukan, lama-lama pasti sampai ke tujuan,” pungkasnya.
Editor : Hany Akasah