radarsurabayabisnis.id - Perum Bulog mencatat sejarah baru dalam ketahanan pangan nasional. Hingga 11 Mei 2026, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang tersimpan di gudang Bulog mencapai 5,3 juta ton, tertinggi sejak perusahaan berdiri 59 tahun lalu.
Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengatakan jumlah tersebut diperkirakan masih terus bertambah dan berpotensi menembus 6 juta ton pada akhir Mei 2026.
“Syukur alhamdulillah, sampai bulan Mei ini stok sudah mencapai 5,3 juta ton. Mudah-mudahan akhir Mei bisa menyentuh 6 juta ton,” ujar Rizal di Kantor Pusat Bulog, Senin (11/5).
Capaian ini sekaligus memecahkan rekor stok beras tertinggi sepanjang sejarah Bulog. Sebagai perbandingan, stok tertinggi pada tahun sebelumnya hanya berada di kisaran 4,2 juta ton.
Menurut Rizal, lonjakan stok beras nasional tidak terlepas dari kerja sama banyak pihak, mulai dari petani, penggilingan padi, penyuluh pertanian, hingga dukungan TNI dan Polri dalam memperkuat distribusi pangan nasional.
Ia juga memastikan seluruh gudang Bulog kini dalam kondisi penuh, termasuk gudang swasta yang disewa untuk menampung cadangan beras tambahan.
“Gudang Bulog memang penuh semua. Bahkan gudang swasta yang kami sewa juga terisi penuh,” katanya.
Baca Juga: Produksi Beras Indonesia Semester I 2026 Mencapai 19,31 Juta Ton di Tengah Ancaman El Nino
Melimpahnya stok beras ini dinilai menjadi sinyal positif bagi ketahanan pangan Indonesia di tengah ancaman cuaca ekstrem dan potensi dampak El Niño yang sebelumnya sempat dikhawatirkan memengaruhi produksi pangan nasional.
Dengan cadangan beras yang besar, Bulog optimistis kebutuhan masyarakat tetap aman dan stabil dalam beberapa bulan ke depan.
Selain fokus menjaga stok pangan, Bulog juga menggelar berbagai kegiatan sosial dalam rangka HUT ke-59 perusahaan. Kegiatan tersebut meliputi bazar murah, donor darah, santunan anak yatim, hingga pembagian 1.000 paket sembako bagi masyarakat.
Tak hanya itu, Bulog juga membuka program tebus murah untuk sejumlah kebutuhan pangan dengan harga 30–40 persen di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET), khusus bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Baca Juga: Indonesia Jajaki Ekspor 200 Ribu Ton Beras ke Malaysia, Senilai Rp2 Triliun
“Kegiatan ulang tahun ini bukan hanya seremonial, tetapi juga upaya membantu masyarakat,” tutup Rizal.
Editor : Hany Akasah