Pernyataan Trump tersebut memicu reaksi pasar global karena dinilai memperbesar potensi konflik berkepanjangan di kawasan penghasil minyak utama dunia.
"Saya baru saja membaca respons dari apa yang disebut 'perwakilan' Iran. Saya tidak menyukainya - SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA!" tulis Trump, dikutip dari CNBC, Senin (11/5).
Baca Juga: Shell Indonesia Kembali Beroperasi, Harga V-Power Diesel Jadi Sorotan
Di saat bersamaan, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu juga menegaskan bahwa konflik dengan Iran belum sepenuhnya berakhir.
Pernyataan tersebut semakin meningkatkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah yang selama ini menjadi pusat distribusi energi dunia.
Akibat sentimen tersebut, harga minyak mentah dunia langsung bergerak naik. Minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat untuk pengiriman Juni tercatat naik 3,08 persen menjadi US$ 95,42 per barel.
Sementara itu, minyak Brent untuk pengiriman Juli juga mengalami penguatan sebesar 3,16 persen ke level US$ 104,49 per barel.
Baca Juga: Harga Sembako Surabaya, Gresik, Sidoarjo Senin 11 Mei 2026, Cabai Lanjut Naik
Kenaikan harga minyak ini mencerminkan tingginya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan distribusi energi global apabila konflik terus bereskalasi.
Pengamat menilai harga minyak dunia masih memiliki peluang untuk terus meningkat dalam waktu dekat, terutama jika negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat tidak mencapai titik temu.
Selain itu, perhatian pasar juga tertuju pada Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu titik utama distribusi minyak dunia.
Iran dinilai masih memiliki pengaruh besar terhadap akses dan keamanan jalur tersebut.
Baca Juga: Rupiah Kembali Melemah di Tengah Ketegangan Geopolitik Timur Tengah
Jika situasi geopolitik semakin memanas dan distribusi energi terganggu, maka kenaikan harga minyak global diperkirakan akan memberikan dampak lanjutan terhadap berbagai sektor ekonomi, termasuk transportasi, industri, hingga harga bahan bakar di berbagai negara.
Kondisi ini juga membuat pelaku pasar terus memantau perkembangan hubungan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang dinilai dapat menentukan arah pergerakan harga energi global dalam beberapa waktu ke depan. (iza/han)