RADAR SURABAYA BISNIS – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong daya saing industri kosmetik nasional sebagai salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi.
Dengan pasar yang diproyeksikan terus membesar, industri ini menjadi peluang menjanjikan, khususnya bagi pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM).
Berdasarkan data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), saat ini terdapat 1.684 pelaku usaha kosmetik di Indonesia. Menariknya, sekitar 85 persen dari jumlah tersebut didominasi oleh pelaku IKM.
Baca Juga: Kereta Api Pertama Rp 25 T di Kalimantan Segera Dibangun, Target Tersambung ke IKN
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kemenperin, Reni Yanita, menyatakan bahwa industri kosmetik domestik terus menunjukkan tren positif.
Hal ini sejalan dengan proyeksi lembaga riset Statista yang memperkirakan nilai pasar kosmetik di Indonesia akan melampaui 10 miliar dolar AS pada tahun 2026, dengan rata-rata pertumbuhan di atas 5,5 persen dalam lima tahun ke depan.
"Industri kosmetik Indonesia memiliki daya saing tinggi di panggung domestik maupun global. Hampir 85 persen pelakunya adalah IKM," ungkap Reni dalam keterangannya bersama Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (PERKOSMI) di Jakarta, Jumat.
Baca Juga: Pemerintah Siapkan 30 Ribu Manajer Tersertifikasi BNSP untuk Genjot Bisnis KDKMP
Di balik potensi pasarnya yang raksasa, Kemenperin menyoroti pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan, yakni rantai pasok bahan baku. Reni menyebutkan, sekitar 80 persen bahan baku kosmetik di Indonesia saat ini masih mengandalkan impor.
Untuk mengatasi hal tersebut, Direktur Industri Kimia Hilir dan Farmasi Kemenperin, Sopar Halomoan Sirait, menegaskan perlunya langkah substitusi impor agar industri kecantikan nasional bisa mandiri. Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar dari kekayaan biodiversitas.
"Kita memiliki lebih dari 30 ribu jenis tanaman berkhasiat dan berbagai sumber daya alam lainnya yang sangat potensial untuk dikembangkan menjadi bahan baku kosmetik," kata Sopar.
Baca Juga: Harga Sembako Surabaya, Gresik, Sidoarjo Sabtu 9 Mei 2026, Minyak Goreng Naik
Ia menambahkan bahwa hilirisasi riset, komersialisasi hasil penelitian, dan kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, asosiasi, dan pelaku usaha sangat krusial untuk mempercepat kemandirian bahan baku ini.
Dari sisi pelaku usaha, Ketua Umum PERKOSMI, Sancoyo Antarikso, menyoroti adanya pergeseran tren konsumen. Menurutnya, konsumen masa kini semakin cerdas dengan menuntut produk yang tidak hanya efektif, tetapi juga aman, transparan, dan diproduksi dengan memperhatikan dampak lingkungan (berkelanjutan).
"Industri kecantikan saat ini bergerak menuju standar yang lebih tinggi. Inovasi berbasis sains, teknologi, keamanan, dan praktik berkelanjutan menjadi kunci untuk berjalan beriringan dengan pertumbuhan industri," ujar Sancoyo.
Baca Juga: Emas Antam Tak Bergerak, Buyback Tetap Kokoh di Akhir Pekan
Dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah dalam penyediaan bahan baku lokal dan inovasi berkelanjutan dari pelaku usaha, industri kosmetik Indonesia diyakini tidak hanya mampu menjadi "tuan rumah" di negeri sendiri, tetapi juga kompetitif di pasar internasional.
Editor : Hany Akasah