RADAR SURABAYA BISNIS- Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menegaskan bahwa Balai Latihan Kerja (BLK) kini telah berevolusi melebihi fungsi tradisionalnya sebagai tempat pelatihan.
Dalam arahannya di Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Bandung, Jawa Barat, pada Jumat (8/5), ia menyatakan bahwa BLK kini dikembangkan menjadi inkubator bisnis, klinik produktivitas, serta pusat pengembangan talenta (Talent and Innovation Hub).
Langkah strategis ini diambil guna memastikan lulusan vokasi tetap adaptif, inklusif, dan relevan dengan dinamika kebutuhan industri modern, baik di level domestik maupun internasional.
“BLK tidak hanya sekadar menjadi tempat pelatihan, tetapi juga dikembangkan sebagai Talent and Innovation Hub, klinik produktivitas, serta inkubator bisnis. Fokus Kemnaker adalah memastikan lulusan BLK dapat langsung terserap di dunia kerja atau mampu merintis usaha secara mandiri,” ujar Yassierli.
Baca Juga: Perluas Jangkauan di China, QRIS RI Segera Terintegrasi dengan WeChat Pay
Transformasi ini merupakan bagian dari strategi ketenagakerjaan Indonesia periode 2025–2029 yang menitikberatkan pada penguatan link and match antara dunia vokasi dan industri.
Selain optimalisasi BLK, kebijakan ini mencakup perlindungan pekerja informal, penyediaan lapangan kerja layak, hingga penguatan regulasi terkait platform digital dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Untuk mempercepat pencapaian tersebut, pengelolaan BLK kini menerapkan pendekatan user journey approach yang berfokus pada alur pencari kerja secara komprehensif, mulai dari tahap pendaftaran hingga penempatan.
“Kemnaker mendesain ulang alur layanan BLK agar lebih berfokus pada kebutuhan pencari kerja. Pelatihan tidak lagi hanya berorientasi pada materi di kelas, tetapi juga mengedepankan metode Project-Based Learning (PBL) dan program magang langsung di industri,” tambahnya.
Guna memperkuat ekosistem pengembangan SDM, BLK akan mengintensifkan kolaborasi dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI), perguruan tinggi, serta berbagai komunitas.
Baca Juga: Utang Pemerintah Tembus Rp9.920 Triliun di Maret 2026, Masihkah di Batas Aman?
Pengelolaan balai juga akan didukung oleh pemanfaatan data berbasis teknologi informasi untuk memetakan kebutuhan pasar secara presisi dan mengevaluasi dampak program secara berkala.
Menutup arahannya, Yassierli menekankan pentingnya peran humas dalam menyebarluaskan akses informasi agar manfaat BLK dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat.
“Dengan sinergi data, kolaborasi yang kuat, dan pendekatan humas yang proaktif, kami yakin BLK akan menjadi motor penggerak SDM unggul menuju Indonesia Emas 2045,” pungkas Yassierli. (nov/han)
Editor : Hany Akasah