Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Ancaman AI dan Otomatisasi Bikin Gen Z Rentan Menganggur dan Bergaji Rendah

Hany Akasah • Kamis, 7 Mei 2026 | 06:18 WIB
Diskusi Laboratorium (Lab) 45 dalam peluncuran buku
Diskusi Laboratorium (Lab) 45 dalam peluncuran buku 'Jam Pasir Indonesia'

radarsurabayabisnis.id - Generasi Z atau Gen Z disebut menjadi harapan baru bagi masa depan demokrasi Indonesia. Tumbuh di era internet dan media sosial membuat generasi muda dinilai lebih kritis, aktif menyuarakan isu publik, dan cepat bergerak di ruang digital.

Namun di balik potensi besar tersebut, Gen Z juga menghadapi tantangan serius, mulai dari pengangguran, rendahnya upah, hingga ancaman otomatisasi dan kecerdasan buatan (AI) yang dinilai dapat memengaruhi masa depan ekonomi serta politik anak muda Indonesia.

Baca Juga: Tembus 147 Juta Orang, Inilah 3 Sektor yang Paling Banyak Menyerap Tenaga Kerja RI

Hal itu disampaikan Jessica Arreta dalam peluncuran buku Jam Pasir Indonesia di Jakarta.

“Kalau dilihat dari demografinya, Gen Z merupakan kelompok demografi terbesar, mencapai 27 persen dari total populasi Indonesia. Mereka cukup unik dibandingkan kelompok usia lainnya karena tumbuh sebagai digital native,” kata Jessica.

Gen Z Dinilai Lebih Kritis dan Aktif di Media Sosial

Menurut Jessica, Gen Z memiliki karakter berbeda karena sejak kecil hidup berdampingan dengan internet dan teknologi digital. Kondisi itu membuat mereka terbiasa menyampaikan opini dan aktivisme politik melalui media sosial maupun platform digital lainnya.

Fenomena tersebut dinilai menjadi modal penting bagi perjalanan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045, khususnya dalam memperkuat kualitas demokrasi dan partisipasi publik.

Baca Juga: 1.300 Guru di Jatim Pensiun, Pemprov Buka Rekrutmen ASN Guru 2026

Secara dasar, Gen Z disebut telah memiliki fondasi yang cukup kuat untuk menjadi penerus demokrasi masa depan. Namun, partisipasi politik generasi muda saat ini masih dianggap terbatas pada momentum elektoral seperti pemilu lima tahunan.

“Banyak Gen Z memaknai pemilu sebagai bentuk utama keterlibatan politik, sementara keterlibatan substantif masih belum optimal,” ujarnya.

Gen Z Rentan Menganggur dan Bergaji Rendah

Di sisi lain, Gen Z juga dinilai menjadi kelompok yang paling rentan secara ekonomi. Banyak anak muda menghadapi tekanan hidup di tengah sulitnya lapangan kerja berkualitas.

Jessica mengungkapkan sekitar 20 persen Gen Z berada dalam kondisi tidak bekerja, tidak bersekolah, maupun tidak mengikuti pelatihan.

Bahkan bagi yang sudah bekerja, sebagian besar masih menerima upah rendah dibanding kelompok usia lainnya. Banyak pula yang tidak terserap di sektor formal sehingga harus bekerja di sektor informal atau mengalami setengah pengangguran (underemployment).

Ancaman AI dan Otomatisasi Jadi Tantangan Baru

Selain masalah pekerjaan, perkembangan teknologi AI dan otomatisasi juga dinilai menjadi ancaman baru bagi masa depan Gen Z.

“Ancaman otomasi dan juga ancaman AI turut memperburuk kerentanan Gen Z,” jelas Jessica.

Karena itu, ia menilai pemerintah perlu mempercepat penciptaan lapangan kerja berkualitas bagi generasi muda melalui industrialisasi, keterbukaan ekonomi, hingga penyederhanaan birokrasi dan perizinan agar investasi serta pertumbuhan usaha semakin meningkat.

Editor : Hany Akasah
#medsos #genz #tantangan AI #ai #Otomatisasi