radarsurabayabisnis.id - Jauh sebelum teknologi digital dan mesin printing mendominasi industri perfilman, poster-poster raksasa yang menghiasi bioskop di Surabaya ternyata dibuat secara manual dengan teknik lukis tangan. Karya seni tersebut menjadi bagian penting dari kejayaan bioskop era 1970-an hingga 1990-an.
Salah satu pelukis poster film legendaris di Surabaya adalah Andreanus Gunawan. Pria ini sudah menekuni profesi unik tersebut sejak 1972, ketika masih duduk di bangku SMA kelas 2.
Baca Juga: Lebih dari Sekadar Hiburan, Sektor Gim Kini Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi Baru Nasional
“Awalnya tahun 1972 buat gambar iklan bioskop di koran. Karena dulu iklannya pakai gambar, jadi semuanya menggunakan tinta. Kalau langsung dari foto terus dicetak hasilnya gak bagus dan pecah-pecah, jadi harus digambar ulang,” ujar Andreanus, Selasa (5/5).
Poster Film Bioskop Dulu Dilukis Manual di Atas Kain
Setelah mahir membuat ilustrasi untuk iklan bioskop di koran, Andreanus mulai dipercaya membuat poster film ukuran besar pada 1973. Poster tersebut dipasang di bagian depan bioskop untuk menarik perhatian penonton.
Saat itu, poster film bukan hasil cetakan digital seperti sekarang. Seluruh gambar dibuat manual di atas kain dengan detail wajah dan warna yang sangat presisi.
“Gambar poster itu pesanannya dari produser atau pemilik film. Saya bikin sesuai contoh gambar yang dikasih, terus saya atur komposisi dan ukurannya,” jelasnya.
Ukuran poster standar bioskop kala itu mencapai 5 x 2,5 meter. Bahkan untuk poster raksasa berukuran 12 x 6 meter, Andreanus membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga hari pengerjaan.
Baca Juga: Gen Z Resmi Kuasai Demografi Indonesia, Kiblat Konsumsi dan Pasar Kerja Mulai Bergeser
Menariknya, dalam sehari ia bisa menyelesaikan satu hingga dua poster sekaligus karena tingginya permintaan dari bioskop-bioskop di Surabaya.
Poster Film Suzanna hingga Hollywood Pernah Digarap
Selama puluhan tahun berkarya, Andreanus mengaku telah membuat sekitar 300 poster film, baik film Indonesia maupun film Hollywood.
Beberapa film legendaris yang pernah ia lukis antara lain Dirty Tricks, Bing Slamet Merantau, hingga Beranak Dalam Kubur yang dibintangi Suzanna.
Karya-karyanya pernah menghiasi bioskop ikonik Surabaya seperti Bioskop Arjuna di kawasan Jalan Embong Malang.
“Kurang lebih 300 poster sudah saya buat dari film luar negeri dan Indonesia sendiri,” ungkapnya.
Hilang karena Teknologi Digital dan Bioskop Modern
Memasuki era 2000-an, seni lukis poster film perlahan menghilang. Kehadiran teknologi printing digital membuat proses pembuatan poster menjadi jauh lebih cepat dan murah.
Selain itu, perubahan konsep bioskop modern yang berpindah ke pusat perbelanjaan juga ikut memengaruhi hilangnya poster raksasa lukis tangan.
“Bubarnya karena teknologi sudah maju, terus bioskop juga mulai masuk ke dalam mall. Jadi ukuran posternya dibuat kecil-kecil dan dicetak mesin, tidak perlu lagi yang besar digambar tangan,” tuturnya.
Kini, kisah para pelukis poster film bioskop menjadi bagian nostalgia tersendiri dari sejarah perfilman Indonesia, khususnya di Surabaya.
Editor : Hany Akasah