Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Jejak Jalan Jagalan Surabaya Era 90-an, Ajang Berburu Hoki Lewat Judi SDSB

Lambertus Hurek • Selasa, 5 Mei 2026 | 14:38 WIB
Setiap Rabu malam, masyarakat dari berbagai kalangan memadati toko-toko yang menyediakan kupon resmi SDSB.
Setiap Rabu malam, masyarakat dari berbagai kalangan memadati toko-toko yang menyediakan kupon resmi SDSB.

radarsurabayabisnis.id - Jalan Jagalan di Surabaya pada setiap Rabu malam di era 1990-an selalu menghadirkan suasana berbeda. Deretan toko yang biasanya dipenuhi aktivitas jual beli mendadak berubah menjadi pusat keramaian warga yang datang untuk satu tujuan, menebak angka kupon Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB).

Program yang digagas pemerintah melalui Kementerian Sosial Republik Indonesia itu kala itu menjadi fenomena nasional. Warga dari berbagai kalangan rela antre demi membeli kupon resmi SDSB dengan harapan angka pilihan mereka membawa keberuntungan.

Baca Juga: Lahan Sempit Jadi Sumber Cuan, Kisah Kampung Hidroponik Surabaya Berkembang Sejak Pandemi

Hadiah yang ditawarkan pun tergolong besar pada masanya. Tak sedikit masyarakat tergoda untuk terus mencoba peruntungan setiap pekan demi mendapatkan hadiah jutaan rupiah yang dianggap mampu mengubah hidup.

Namun di balik euforia tersebut, SDSB juga menuai kontroversi. Banyak pihak menilai praktik itu lebih menyerupai perjudian berkedok program sosial.

Salah satu warga Surabaya, Ariawan Sulistya, masih mengingat jelas bagaimana suasana Jalan Jagalan kala itu dipenuhi kerumunan warga setiap malam pengundian.

Ia bahkan pernah merasakan sendiri keberuntungan saat berhasil menebak angka tiga digit “314” dan memenangkan hadiah sebesar Rp80 ribu, nominal yang cukup besar pada era 90-an.

Baca Juga: Pabrik Sabun Legendaris di Surabaya Tutup, Bertahan 102 Tahun Sejak Zaman Belanda, Ini Kisahnya

“Senang sekali waktu itu. Uangnya bisa buat banyak kebutuhan,” kenangnya.

Kemenangan itu sempat membuat Ariawan ketagihan untuk kembali bermain. Ia terus membeli kupon di minggu-minggu berikutnya dengan harapan keberuntungan datang lagi.

Namun, hasil yang diharapkan tak pernah kembali terulang hingga akhirnya program SDSB resmi dihentikan pemerintah.

“Saya terus coba lagi, tapi tidak pernah dapat lagi sampai akhirnya SDSB ditutup,” ujarnya.

Seiring meningkatnya kritik dari masyarakat dan tokoh agama, pemerintah akhirnya menghentikan program SDSB karena dinilai lebih banyak membawa dampak negatif dibanding manfaat sosial yang dijanjikan.

Kini, keramaian Jalan Jagalan setiap Rabu malam tinggal menjadi cerita nostalgia warga Surabaya era 90-an. Meski SDSB telah lama berakhir, kisah tentang angka keberuntungan, antrean panjang, hingga mimpi mendadak kaya masih melekat dalam ingatan banyak orang yang pernah mengalaminya.

Editor : Hany Akasah
#sdsb #jagalan #Surabaya Tempo Dulu