radarsurabayabisnis.id - Harga telur ayam ras di Jawa Timur terus mengalami penurunan dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini membuat para peternak mulai tertekan karena stok telur menumpuk, sementara permintaan pasar belum kembali normal usai Lebaran.
Berdasarkan data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jawa Timur per Senin (4/5) pukul 14.16 WIB, harga rata-rata telur ayam ras di 38 kabupaten/kota berada di angka Rp26.264 per kilogram.
Harga tertinggi tercatat di Kabupaten Bangkalan sebesar Rp28.000 per kilogram. Sedangkan harga terendah berada di Kabupaten Jember yang hanya menyentuh Rp24.800 per kilogram.
Baca Juga: Harga Sembako Surabaya, Gresik, Sidoarjo Senin 4 Mei 2026, Cabai Rawit Melonjak Tajam
Ketua Asosiasi Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN), Rofi Yasifun, mengatakan anjloknya harga telur dipicu kelebihan pasokan di tingkat peternak yang tidak diimbangi daya serap pasar.
Menurutnya, kondisi mulai terasa sejak masa libur Lebaran, ditambah berhentinya sementara program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang selama ini membantu menyerap produksi telur dalam jumlah besar.
“Terjadi penumpukan stok telur di kandang peternak sejak libur Lebaran. Apalagi saat itu juga bertepatan dengan liburnya program Makan Bergizi Gratis (MBG), sehingga serapan berkurang drastis,” ujarnya, Senin (4/5).
Tak hanya itu, penurunan permintaan juga dipengaruhi faktor musiman dalam kalender Jawa. Saat ini masyarakat memasuki bulan Selo, periode yang identik dengan minimnya hajatan atau acara besar.
Padahal, telur ayam menjadi salah satu bahan pangan utama dalam berbagai kegiatan masyarakat seperti kenduri, hajatan, hingga usaha kuliner.
“Dalam bulan Selo, biasanya hajatan sepi. Ini sangat berpengaruh terhadap permintaan telur di pasaran,” jelas Rofi.
Kondisi paling parah terjadi di sentra produksi telur seperti Blitar. Rofi mengungkapkan peternak skala besar di wilayah tersebut mengalami penumpukan stok hingga ratusan ton.
“Di Blitar ada peternak yang stok telurnya menumpuk sampai 300 ton di kandang,” katanya.
Akibat melimpahnya stok, harga telur di tingkat peternak ikut tertekan. Saat ini harga telur di kandang hanya berkisar Rp21.500 hingga Rp22.500 per kilogram.
Peternak kecil disebut menjadi pihak yang paling terpukul karena harus menjual telur dengan harga rendah demi menjaga arus distribusi tetap berjalan.
“Yang melepas di harga Rp21.500 biasanya peternak kecil. Bagi kami, bisa bertahan tanpa rugi besar saja sudah sangat bagus dalam kondisi seperti ini,” terang Rofi.
Ia menilai program MBG memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan telur nasional. Ketika program tersebut berhenti sementara, dampaknya langsung terasa pada menumpuknya stok di kandang peternak.
“Program MBG sangat membantu peternak. Ketika program itu libur, dampaknya langsung terasa pada penumpukan stok,” ujarnya.
Para peternak kini berharap pemerintah segera melakukan intervensi agar harga telur ayam ras kembali stabil. Mereka meminta optimalisasi kembali program MBG serta perluasan distribusi pasar untuk menyerap kelebihan produksi telur di Jawa Timur.
Editor : Hany Akasah