RADAR SURABAYA BISNIS – Indonesia mencatatkan prestasi gemilang di sektor energi global. Lembaga keuangan internasional, JP Morgan, menempatkan Indonesia di posisi kedua dari 52 negara dengan ketahanan energi terbaik di dunia. Pencapaian ini diraih di tengah fluktuasi geopolitik global yang tidak menentu.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa pengakuan ini merupakan hasil nyata dari berbagai reformasi tata kelola energi nasional.
Meski begitu, ia mengakui kondisi energi dalam negeri masih memiliki tantangan besar, terutama ketergantungan pada impor minyak mentah di masa lalu.
Baca Juga: CNG 3 Kg Diklaim Lebih Murah 40 Persen, Disiapkan Untuk Gantikan LPG
“Dalam kondisi ini kita harus putar otak bagaimana caranya mencapai kemandirian energi,” ujar Bahlil dalam acara Business Forum Himpunan Alumni IPB University di Jakarta, Sabtu (2/5).
Transformasi Produksi dan Penghentian Impor Solar
Salah satu tonggak sejarah yang dicapai pada tahun 2026 adalah penghentian total impor solar. Keberhasilan ini didorong oleh kebijakan mandatori biodiesel yang telah berjalan hampir satu dekade.
Pemerintah berencana meningkatkan campuran minyak sawit dalam solar dari 40% (B40) menjadi 50% (B50) pada Juli mendatang.
Selain sektor solar, pemerintah tengah menyiapkan langkah serupa untuk bensin melalui mandatori pencampuran etanol sebesar 20% (E20) yang ditargetkan mulai berjalan pada 2028. Langkah ini diproyeksikan mampu mengurangi impor bensin hingga 8 juta kiloliter.
Akselerasi Proyek Strategis Nasional
Di sektor gas, pemerintah mempercepat pengembangan Blok Abadi Masela di Maluku yang sempat mangkrak selama tiga dekade.
Proyek senilai USD 21 miliar tersebut kini telah memasuki tahap lelang konstruksi. Sementara itu, temuan baru di Blok Ganal, Kalimantan Timur, diharapkan mulai berproduksi signifikan pada 2029.
Sebagai solusi atas tingginya subsidi LPG yang mencapai Rp 80-87 triliun per tahun, pemerintah juga mulai mendorong penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) untuk pasar rumah tangga dan industri kecil, yang diklaim 30-40 persen lebih murah dibanding LPG.
Jaminan Harga BBM dan LPG
Menutup keterangannya, Bahlil memberikan kepastian kepada masyarakat terkait harga energi domestik. Ia menjamin bahwa harga BBM subsidi dan LPG tidak akan naik hingga 31 Desember 2026, meskipun harga minyak mentah dunia (ICP) menyentuh angka 100 dolar AS.
Langkah-langkah strategis ini, mulai dari optimalisasi sumur tua hingga diversifikasi pasokan minyak mentah, menjadi fondasi utama bagi Indonesia untuk mempertahankan posisinya sebagai pemimpin ketahanan energi di kancah global.
Baca Juga: Pemerintah Subsidi Cicilan Rumah Rp600 Ribu per Bulan untuk Buruh, Petani hingga Nelayan
Editor : Hany Akasah