Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

CNG 3 Kg Diklaim Lebih Murah 40 Persen, Disiapkan Untuk Gantikan LPG

Hany Akasah • Minggu, 3 Mei 2026 | 21:45 WIB
Data Kementerian ESDM menunjukkan konsumsi LPG nasional saat ini mencapai 8,6 juta ton per tahun.
Data Kementerian ESDM menunjukkan konsumsi LPG nasional saat ini mencapai 8,6 juta ton per tahun.

radarsurabayabisnis.id - Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus mencari cara untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor elpiji. Salah satu terobosan yang kini tengah disiapkan adalah pengembangan compressed natural gas (CNG) atau gas alam tekan dalam tabung 3 kilogram sebagai alternatif pengganti LPG 3 kg.

Baca Juga: Menilik Masa Depan Gas Masela Setelah LDA Disepakati, Seluruh Gas Dilaporkan Ludes Terjual

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan, penggunaan CNG dinilai lebih efisien karena bahan bakunya berasal dari gas alam domestik. Selain itu, biaya penggunaan CNG juga disebut lebih murah dibanding LPG subsidi yang selama ini beredar di masyarakat.

Pemerintah Siapkan CNG Tabung 3 Kg untuk Rumah Tangga

Bahlil mengungkapkan, pemerintah saat ini mulai menyiapkan pengembangan CNG dalam kemasan tabung 3 kilogram untuk kebutuhan rumah tangga.

Baca Juga: Modus Penyelundupan BBM dan LPG di Jatim Terbongkar, Kerugian Negara Capai Rp7,5 Miliar

“Untuk yang 3 kilogramnya ini baru mau dibuat. Dan ini ongkosnya lebih murah 30–40 persen,” kata Bahlil saat menghadiri acara Himpunan Alumni IPB di Jakarta, Sabtu (2/5).

Menurutnya, teknologi CNG sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Saat ini, pemanfaatan gas alam tekan tersebut sudah digunakan di sejumlah hotel, restoran, hingga dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).

CNG Dinilai Lebih Murah dan Gunakan Gas Dalam Negeri

Berbeda dengan LPG yang sebagian besar masih bergantung pada impor, CNG memanfaatkan gas alam yang diproduksi di dalam negeri. Gas tersebut kemudian disimpan dalam tabung bertekanan tinggi sekitar 200–250 bar atau setara 2.900 hingga 3.600 psi.

Tabung CNG dirancang khusus agar mampu menahan tekanan tinggi sehingga dinilai aman untuk proses penyimpanan maupun distribusi kepada masyarakat.

Baca Juga: Bukan Sekadar Impor, Ini Alasan Bahlil Pakai Taktik Bola Barcelona untuk Selamatkan Industri Gas Nasional

Pemerintah menilai pemanfaatan CNG dapat menjadi solusi strategis untuk menekan impor energi sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.

Impor LPG Masih Dominasi Kebutuhan Nasional

Data Kementerian ESDM menunjukkan konsumsi LPG nasional saat ini mencapai 8,6 juta ton per tahun. Namun, produksi dalam negeri baru berada di kisaran 1,6 hingga 1,7 juta ton per tahun.

Artinya, lebih dari 80 persen kebutuhan LPG nasional masih dipenuhi melalui impor.

Kondisi tersebut membuat pemerintah terus mendorong diversifikasi energi agar ketergantungan terhadap LPG impor dapat dikurangi secara bertahap.

Pemerintah Akui Masih Ada Tantangan Teknis

Meski dinilai menjanjikan, pengembangan CNG untuk rumah tangga masih menghadapi sejumlah tantangan teknis di lapangan. Namun, Bahlil memastikan pemerintah tetap serius mendorong proyek tersebut.

Langkah ini juga disebut sejalan dengan strategi pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional melalui optimalisasi lifting minyak dan gas bumi (migas), pengembangan biodiesel B50, hingga diversifikasi bahan bakar rumah tangga.

Editor : Hany Akasah
#lpg #cng #bahlil #esdm